Selasa, 14 Desember 2010

Salah Ngitung Prediksi Persalinan?

Tanggal 14 Desember, hari ini sesuai dengan prediksi dokter saya sudah melahirkan. Tapi nyatanya belum, ada sedikit kekhawatiran tapi buru-buru saya tepis. Ini pasti salah hitung, karena waktu itu saya salah ngasih tau tanggal terakhir haid saya ke dokter dan bidan yaitu 5 maret 2010. Pas saya, liat-liat kalender haid lagi, ternyata haid terakhir saya 10 Maret. Nah, kalau yang dipakai 10 Maret, berarti prediksi kelahiran yang benar adalah tangal 17 Desember. Masih 3 hari dari sekarang.

Sebetulnya, belakangan ini saya agak bete sih. Mungkin akumulatif karena hampir 3 minggu saya ngendon di rumah tanpa ada aktifitas yang berarti. Biasanya saya wara wiri, kesana kesini, eh tiba-tiba masuk kandang. Hmmm, orang yang gak hamil yang setipe sama saya aja pasti ngerasain hal yang sama. kebetean saya nambah, saat saya dihujani pertanyaan "Kapan lahiran?" atau "Kok nggak lahir-lahir sih?".. Ya ampun, mending nanyanya sekali, lah ini berulang kali. Saya, yang tadinya tenang-tenang aja jadi sedikit terpengaruh. Akhirnya, hanya mereka yang bertanya satu kali yang saya jawab, mereka yang tanya berkali-kali via sms dan facebook saya cuekin. Kalau yang nanya ketemu langsung, paling saya jawab "Belum waktunya lahir, gimana dong?"

Kadang, saya ngebandingin juga sama temen-temen yang persalinannya lebih cepat dari prediksi. Usaha saya untuk merangsang kontraksi juga jalan terus, mulai dari merangsang puting sambil massage payudara, berhubungan seksual sama suami dua hari sekali sampai banyak jalan. Hasilnya, emang sih kontraksi, tapi nggak mules-mules. So, saya terusin aja usaha itu, sambil berdoa banyak-banyak lah sama Allah.

Disamping itu, saya terus mensugesti bahwa persalinan saya akan lancar, mudah dan cepat, NORMAL pula! hehehehhe..

Kalau pun sampai tanggal 17 Desember nggak kunjung lahir, saya mau ke dokter, mau ngecek kondisi air ketuban dan plasenta saya. Pokoknya saya akan sabar menunggu datangnya mules yang alami. Sempet browsing juga sih gimana caranya merangsang mules, dan muncullah RUMPUT FATIMAH.. Katanya, rumput fatimah ini tokcer banget untuk merangsang mulas dan mempercepat proses persalinan. Tapi, melihat resiko pendarahan yang hebat akibat meminum ini saya jadi mikir dua kali. Karena didalam rumput fatimah ini mengandung zat yang bisa membuat pembuluh darah pecah. Ini dipakai juga untuk memperlancar haid, dan para wanita yang mau nggugurin kandungan. Mungkin, tergantung dosis kali ya..

Mungkin, nggak ada salahnya dicoba.. dan pokoknya, Induksi adalah alternatif terakhir setelah usaha-usaha tadi. Doakan ya..

Minggu, 05 Desember 2010

Inilah yang Harus Dilakukan Sebelum Bersalin

Bersalin, melahirkan atau ngebrojolin orok pasti dialami hampir semua perempuan -kecuali mereka yang memang nggak ditakdirkan hamil dan melahirkan ya, itu lain cerita-. Kesibukan para calon ibu yang akan melahrkan anak pertamanya menjelang melahirkan pasti macam-macam. Ada yang sibuk nyari info gimana rasanya melahirkan, rasa sakit yang diderita, teknik mengejan yang benar sampai bagaimana pernak-pernik mengurusi bayu lahir. Itu sih saya banget.

Khusus untuk yang satu itu, saya lagi belajar untuk tetap rileks dan berpikir positif. Rileks akan membuat saya lebih sabar dan tenang. Kenapa mesti sabar, karena emosi orang mau melahirkan super sensitif. Dia akan mengalami satu hal yang menakjubkan, menyakitkan sekaligus menyenangkan. So, perasaan itu hampir dialami semua calon ibu yang mau melahirkan.

Soal sakit, semua orang melahirkan pasti merasakannya. Entah disesar atau normal. Tapi bukan itu intinya, bagi saya setiap orang punya cara sendiri-sendiri buat menghadapi rasa sakit dan rasa takut. Peristiwa melahirkan antara ibu yang satu dengan ibu yang lain juga nggak bisa disamakan. Ya kan? setuju nggak?

Ada teman saya yang belum lama ini melahirkan, dia cerita, mungkin kedengerannya menakutkan ya buat orang lain atau buat dia juga. Tapi kok saya biasa aja yang dengernya, karena buat saya, saya nggak ngalamin itu jadi bagaimana bisa saya membenarkan cerita dia kalau saya aja belum mengalami. Orang mau cerita sehoror apapun ke saya soal melahirkan, nggak akan ngaruh. Karena saya belum mengalami sendiri.

Kalau saya lagi kontraksi palsu atau mengeluh sakit pinggang atau apalah, entah kenapa nggak ada keinginan mengekspresikan dengan berteriak atau melakukan suatu yang ekstrim. Paling banter saya ngadu aja ke suami, atau menghirup nafas dalam-dalam untuk mengalihkan rasa sakit.

Hal yang sama akan saya lakukan saat rasa mulas yang konon katanya 1000 kali lipat dari mulasnya orang diare. Justru saya lagi nunggu mulas itu datang. Anytime, semakin mules semakin baik. Tak apalah merasakan mules berjam-jam, karena setelah itu Allah akan kasih obatnya, yaitu liat anak saya. Ya kan? Saya percaya deh, Allah itu adil. Dia yang membuat rasa sakit dan Dia juga yang ngasih penyembuhnya.

So, Bumil, untuk apa tegang, relaks aja karena melahirkan itu bagian dari proses alami.

Jumat, 03 Desember 2010

Nunggu Kenzie Lahir (Part 1)

Sudah lima hari saya di rumah aja. Bosen? enggak tuh. Karena banyak hal yang saya kerjain di rumah. Mulai dari rutinitas pekerjaan rumah tangga yang kemaren-kemaren saya lakukan seminggu sekali. Misalnya, kayak nyuci baju dan menyetrika hehehehe. Kalau cuci piring dan ngepel sih bisa lah sekarang sehari sekali. Itung-itung sambil nunggu Kenzie lahir. Tapi emang dasarnya juga sih saya nggak bisa diem.

Bebenah saya mulai dari ruang depan, saya mensweeping barang-barang di lemari yang udah nggak layak disimpan. Lumayan capek karena harus bangun duduk, bangun dan duduk lagi. Secara ya booo perut lagi guede gini. Semar-semir sepatu, njemur sepatu, dan beresin dapur. Hasilnya, tatanan rumah jauh lebih better.

Ternyata enak ya jadi Ibu RT. Pagi-pagi setelah salat subuh, bikin sarapan buat kita berdua, bikin kopi untuk suami dan susu hamil untuk saya. Sedikit jalan-jalan pagi, maksudnya sih mondar-mandir hhehehe, di koridor ruangan yang menghubungkan dapur dan ruang tivi. Selepas cipika cipiki melepas kepergian suami kerja, bebebah deh, nyapu-nyapu kek, ngepel teras depan, mandi dan nonton tivi. Kadang main ke rumah ibu. Atau kemana gitu yang penting jalan kaki.

Kalau ada yang harus dimasak untuk makan siang ya saya masak, kalau ada cucian yang harus direndam dan dicuci ya saya cuci, cuci piring, nyikat kamar mandi atau apa aja yang penting nggak diem aja. Jadi jauh deh dari rasa boring itu :D

Begitu azan dzuhur, saya solat trus tidur siang deh sampek asar. Mumpung bisa tidur siang. Kemaren-kemaren kan enggak bisa karena 'diganggu' liputan. Nah, mungkin kalau Kenzie udah lahir juga agak susah tidur.

Well, intinya saya nikmati betul masa-masa cuti ini, masa-masa menunggu Kenzie lahir. Menyenangkan!

Minggu, 28 November 2010

Last Day at Okezone.com


Minggu, 28 November 2010, adalah hari terakhir saya di kantor ini. Sedikit sedih sih karena besok dan besoknya lagi saya sudah nggak kerja untuk media yang saya cintai ini.-Dicintai secara pekerjaan tapi tidak dengan manajemen bapuk-. Well, meski saat cuti saya masih terdaftar sebagai karyawan kontrak di sini, tapi hitungan saya sudah tidak lagi, mulai hari ini.

Berikut saya jabarin bagaimana hari terakhir saya di kantor yang kalau weekend ini panas bak neraka karena AC mati. hihihi..

Jam 6.30, lokasi di kontrakan

Saya bangun, kesiangan sih, dan nggak salat subuh pula. Saya mandi, bikin susu untuk diri sendiri dan kopi untuk suami. Diselingi ngejemur baju, hasil kerja di kamar mandi berkolaborasi dengan mesin cuci kemarin. Ngeringin rambut dan jam 7.30 berangkat ke Stasiun Depok Baru. Nggak sampe 30 menit kereta ke Jakarta dateng. Kali ini, nggak naik AC Ekonomi atau Ekspres, maklum ini kan weekend jadi penumpang juga nggak banyak. Alhamdulillah dapat tempat duduk. 45 menit kemudian sampailah saya di kantor.

Jam 8.45 WIB, lokasi di Stasiun Gindangdia

Karena belum sarapan, saya beli nasi uduk di bawah rel kereta dan akan memakannya setibanya di kantor. Perjalanan dari Bareta (Bawah rel kereta) betul-betul saya nikmati. dan jam 9 sampailah saya di kantor.

Jam 09.00 WIB, lokasi di Kantor : Seperti yang sudah diduga sebelumnya, AC kantor mati saat weekend. Menyebalkan ya?. Hawa panas dan pengap, bau rokok dan debu menyambut saya. Dua orang reporter piket malam terlihat kusut di mejanya masing-masing, mungkin mereka belum tidur sejak semalam. Saya menyapa mereka dan sedikit membahas kesalahan berita yang saya tulis atas nama Ferdinan kemarin.

Sambil makan di lobi kantor yang dingin -heran, hanya AC di ruangan ini yang nyala- saya, Ferdinan dan Misbahol Munir ngobrol soal manajemen kantor. Misbahol, new comer ini, tanya-tanya soal kontrak dan lainnya, seperti salary reporter yang memprihatinkan sampai kenaikan status karyawan kontrak. Saya dan Ferdinan cuma bisa ketawa. Kami berdua cuma berpesan sama si new comer ini untuk tidak berharap banyak sama kantor ini.

Jam 9.30 WIB, obrolan selesai, mereka berdua pulang dan seorang asred yang baru saja menikah minggu lalu datang. Di redaksi news, hari ini cuma ada saya, Kang Dede si penganten baru dan Korlip. Time to work!

Dua jam berlalu, tapi mas Korlip belum juga datang, si manten baru nyeletuk kalau mas Korlip emang jagonya ngaret. "Padahal sebagai seorang Korlip dia harus datang lebih pagi, apalagi kalau hari minggu gini, kan kasihan yang piket," kata manten baru. Saya, no comment deh! Nanti kalau orangnya datang ya cuekin aja. Apapun yang terjadi dengan kantor ini hari ini beserta isinya, saya udah masa bodo.

Jam 11 lewat; Time to pesan makanan. Delivery Hokben enak kali ya, saya bersama seorang asred dari kanal lifestyle dan seorang reporter otomotif pesan Hokben. Pesanan datang jam 12.30 WIB. Langsung saya makan heheheh.. lapar booo..

Setelah makan siang, nggak ada acara dan peristiwa yang spesial. Ritmenya sangat flat, saking sepinya, saya masih bisa facebookan dan YM-n sama beberapa teman.

Oia, untuk sekedar mengenang dikemudian hari. Hari ini saya ditemani Korlip, Kang Dede, Susi (kanal news). Dari kanal sport ada Azwar dan seorang reporter yang nggak saya kenal namanya, anak baru soalnya. Di kanal lifestyle ada mba Nisa, di Kanal Ekonomi ada Widi dan seorang reporter baru. Di Kanal International ada seorang reporter baru dan Pasha dari kanal Otomotif. The only man redaktur pelaksana, Bang Fetra. Obe-nya Mas Wawan. Nongol pas jam makan siang doang dan sisanya ngabur entah kemana heheheh.

1 jam menjelang pulang, saya sempetin nulis di blog ini dan ngetik beberapa berita daerah. Usai azan maghrib dan salat maghrib, saya sama Susi mau pulang, kebetulan rumah kita searah looh..

Akhirnya, saya cuma bisa mengucakan selamat tinggal pekerjaan yang sangat menyenangkan, selamat tinggal manajemen kantor yang buruk dan sampai bertemu lagi temen-temen reporter di lapangan, di lain kesempatan pastinya.. someday, saya akan merindukan pekerjaan ini.

Hunting Info dan Beli Macam-Macam Clothdiapers


Dua minggu lagi Kenzi lahir -mudah-mudahan sesuai dengan prediksi ya- atau lebih cepat seminggu nggak apa-apa deh, pas usia Kenzie 39 minggu, yang penting posisinya aman.

Nah sebelum Kenzie lahir, saya lagi seneng hunting clothdiapers atau Clodi. Bahasa mudahnya, popok yang bisa dicuci dan katanya lebih hemat. Beside, si Clodi ini juga ramah lingkungan dan bisa menyelamatkan bumi. Go Green gitu deh. Untuk awalnya, mungkin agak berat ya karena harga Clodi yang bagus itu nggak murah. Paling murah diatas 70 ribu. Paling mahal 300 ribuan. Saya baru saja beli 3 Clodi dengan harga diskon, karena teman yang jual, kebetulan barang-barangnya lagi disale.

Mulanya, saya nggak paham sih gimana cara pakainya, dan takut juga ya beli, mengingat harganya yang lumayan menguras dompet. So, browsinglah saya dari situs penjual Clodi yang satu ke penjual yang lain. Dikit-dikit paham dan Insya Allah nggak nyesel belinya, demi menghemat sekian juta -setidaknya sampai dua tahun ke depan-.

Selang sehari setelah pesan via online, trio Clodi itu coolababy bamboo warna purple 90 ribu, Coolababy warna hijau dan orange (dua-duanya harganya 85 ribu) sampai ke tangan saya. Langsung deh saya cuci pakai detergen *detergennya sedikit aja ya* dan keringin pakai mesin cuci. Katanya, untuk menguji daya serap si Clodi, kita harus nyuci Clodi itu 2 atau 3 kali. Karena kalau enggak dicuci dulu, pipis bayinya bakal bleber kemana-mana. Jadi, saya ikuti aja deh petunjuknya. Toh, nggak ada ruginya nyuci doang. Oia, inget jangan pakai pewangi karena pewangi akan mengurangi daya serap Clodi terhadap pipis.

Asumsinya mungkin begini, katakanlah kita beli pampers atau popok sekali pakai sebulan 300 ribu maka dikali 12 bulan aja kita udah abis 3,6 juta setahunnya. 3,6 juta x 2 tahun = 7,2 juta. Nah, informasi yang saya terima dari situs-situs Clodi itu, paling nggak kita butuh sekitar 10 Clodi. 1 Clodi katakanlah harganya 100 ribu ya, berarti kalau dikali 10 kan sekitar 1 juta. See, berapa juta yang bisa kita hemat. Apalagi, setelah cuti melahirkan berakhir, saya akan jadi Full Time Mom saja. Pastinya hanya mengandalkan gaji suami doang.

Setelah browsing sana-sani, saya menemukan beberapa situs yang Insya Allah saya akan belanja online di tempat itu. Nah, ini situsnya, www.clothdiapersmurah.com dan butikclodi.com. Dari situs-situs yang saya temukan, dua alamat ini yang menurut saya punya koleksi yang banyak dan harganya juga terjangkau. Beda 5 ribu atau 10 ribu kan lumayan tho.. *dasar emak-emak. Biar nggak berat, saya belinya nyicil. Bulan ini udah beli 3 dan bulan depannya lagi beli lagi.

Meskipun bayi baru lahir udah bisa dipakein Clodi, tapi saya memilih untuk memakainya nanti setelah Kenzie berusia 2 atau 3 bulan. Saat dimana pup dan pipisnya sudah teratur. Kabarnya kan kalau baru lahir bayi itu pup dan pipis terus. Volumenya juga sedikit-sedikit dan harus segera diganti. Kalau nggak kulit baby yang sensitif itu bakal merah-merah. Well, untuk persediaan popok kain yang jadul sih saya punya 3 lusin. 2 lusin baru dan 1 lusin lungsuran dari adik saya yang bontot, Zahra.

So, ibu-ibu yang lain gimana? mau pakai Clodi juga nggak? pakai ya.. demi penghematan dan kecintaan kita untuk bumi..

Merek-merek yang direkomendasikan. Saya kasih menurut range kualitas barang ya.. hmmm ada harga ada mutu.

Romparooz (harga sekitar 275 sampai 295 ribu), Grovia (harga sekitar 275 ribu), Bumwear Cloth Diaper (harga 250 ribu), Grow with Green alias GG (harga sekitar 77 ribu), Cluebebe Pocket Diaper 85 sampai 110 ribu), Ananndapers 9harga sekitar 70 ribu). Masih banyak merek lokal lainnya yang jauh lebih murah. Sekali lagi, ada harga ada mutu, silahkan pilih sesuai dengan budget.

Kamis, 25 November 2010

You Know Dok, Pasien Sekarang Pinter-Pinter Tau!

Base on statusku today, tau nggak itu karena apa? aku dapet dokter baru di RS Budi Kemuliaan Jakarta, dapet baru karena baru daftar juga di sana. Secara general sih enak ya orangnya, udah senior pula, taksiran umurnya sih sekitar 50 tahunan.... Tapi booo, sombong deh dokter itu.. dia tanya dulu prediksi lahiran dari dokter pertama tanggal berapa? trus aku jawab tanggal 14 desember.

Doi bilang, prediksi pertama itu yang paling akurat. Nah, mintalah dia hasil print USG yang awal banget. aku bilang, nggak bawa bu, saya simpan di al-quran tapi saya ingat kok tanggal berapa. You knowww dia jawab apa? "Ibu, biarpun ibu pegangannya internet, tapi kalau nggak pernah kuliah kedokteran nggak akan ngerti deh soal beginian" Aseeeem! sombongnya orang ini.. dia kira informasi yang beredar di internet, buku dan majalah yang ditulis ahli atau dokter SpOG dia anggep apa? SAMPAH! ih menyebalkan... dalem hati, udah pertanyaan sama jawaban nggak nyambung. ih dia nanya prediksi lahiran kenapa bawa-bawa pengetahuan soal kehamilan yang aku baca di internet coba.. maklum udah uzur..

Dan konyolnya, setidaknya buat aku, dia nyaranin aku untuk CTG di minggu ke 38. Hallow dia itu nyaranin beneran apa cuma buat proyek doang sih. Emang dia pikir aku nggak tau CTG itu apa dan kapan sebaiknya dilakukan. CTG baru dilakukan pada Bumil dengan Kehamilan dengan komplikasi (darah tinggi, kencing manis, tiroid, penyakit infeksi kronis, Kehamilan dengan berat badan janin rendah (Intra Uterine Growth Retriction), Oligohidramnion (air ketuban sedikit sekali) dan Polihidramnion (air ketuban berlebih). sementara eike, nggak mengalami satu pun dari hal ini. Untuk janin eike, nggak ada masalah tuh. Denyut jantung dan gerakan semua oke.

Ih ketauan banget ngeproyekin pasien. Jadi kepikiran, kalau aku lahiran ditangan dia, jangan-jangan dia nggak sabar trus cari-cari alasan untuk tindakan ini itu dan berujung ke caesar. *ih ngebayanginny aja udah ngeri*.

Selasa, 23 November 2010

Jangan Tanyakan 2 Hal Ini Pada Bumil!

Jangan pernah tanyakan dua pertanyaan ini kepada Ibu Hamil (Bumil) yang menunggu persalinan.

Nggak usah jauh-jauh, saya saja kerap dihujani dua pertanyaan ini. Memang nggak ada yang salah dengan pertanyaan ini tapi kalau terus-terusan dihujani pertanyaan kayak gini, bete juga saya.. Bagi yang belum tau, nih saya kasih bocorannya ya..

1. Kok Belum Cuti Sih?

Kalau pertanyaanya sekali dua kali sih boleh ya, tapi bagaimana kalau pertanyaan itu dilontarkan setiap hari, dengan kadang yang nanya itu-itu saja. Bosen kan?? atau kalimatnya begini, aduuuh pulang gih, nanti brojol di jalan loh? Udah gendut gini di rumah aja deh, istirahat! saya sih sebel kalau ditanya hal ini. Please ya, orang hamil itu bukan orang sakit yang harus diem aja di rumah. Justru menjelang bersalin gini, dia harus banyak beraktifitas.

2. Kok Belum Lahir Juga?
Nah, pernah kan denger orang nanya begini? hayoo ngaku deh. Saya-dengan prediksi melahirkan 3 minggu lagi- aja udah dihujani pertanyaan kek begini. Emang sih perut saya ini gede banget, udah mau meledak kali ya. Mungkin orang-orang juga udah nggak tega liat saya masih mondar-mandir Depok-Jakarta dengan naik sepeda motor (dibonceng sih hehehhe). Tapi jujur deh saya sebel kalau ditanyain ini. Toh kalau udah lahir juga nanti kalian pada tau semua. Yang paling nggak enak ya denger kalimat ini "Kok belum lahir juga sih, si anu udah lahiran looh padahal"..

Eh hallooo... meneketehe ini bayi mau lahir kapan. Dokter atau bidan kan manusia yang prediksinya juga bisa salah. Suka-suka Tuhan kenapa sih.. kan dia yang nentuain segalanya. Situ bawel amat. *umpat saya dalem hati*.

Senin, 22 November 2010

Sorry, I'm Out!

Saya bergabung di perusahaan media ini agustus 2008. Sejak awal sampai sekarang memang saya nggak pernah mempermasalahkan gaji yang saya terima. Saya pikir, seseorang yang mengeluhkan gaji di tengah-tengah dia bekerja itu konyol. Kan sebelum meneken kontrak, pihak perusahaan udah ngasih tau gaji yang akan kita terima sekian dan tunjangan ini itu sekian. Kalau nggak cocok, kan kita bisa menolak sejak awal. Kalau udah dikasih tau tetep teken kontrak, trus di tengah perjalanan kerja ngeluhin gaji, ya konyol. Bener nggak.

Cuma satu yang paling mengecewakan dari perusahaan itu, mereka melanggar undang-undang tenaga kerja. Gini ceritanya, saya masuk di perusahaan tersebut tahun 2008 dengan kontrak setahun, dan tahun berikutnya, 2009 juga setahun. Idealnya, saat kontrak ketiga yaitu tahun 2010, saya sudah diangkat sebagai karyawan tetap. Satu yang saya pikirkan saat itu, biar mereka bisa mencover biaya persalinan dan beberapa fasilitas lain yang akan saya dapatkan sebagai karyawan tetap.

Di awal tahun 2010, HRD manggil sebagian karyawan kontrak di perusahaan itu. Inti dari pertemuan itu, kita-kita yang sudah dua tahun bekerja tidak bisa diangkat jadi karyawan tetap dulu dengan alasan perombakan sistem di HRD. entah itu apa, yang jelas. Mereka baru bisa angkat kita jadi karyawan dengan setahun kontrak lagi. Nah, artinya kan setahun lagi tuh alias kalau untuk saya itu Agustus 2011 nanti. Jadi masing-masing orang harus melewati 3 tahun kontrak kepegawaian dulu.
Mungkin motif awalnya mereka nggak mau rugi aja kali ya ngangkat karyawan sebanyak itu. Belum lagi printilan-printilan kekecewaan lain yang bikin tensi darah naik. Mulai dari atasan yang kurang manusiawi, jaringan kurang dan kalau nyuruh suka nggak mikir-mikir dulu. Yah,kayak kurang pengalaman gitu lah.

Kenapa saya bilang mereka nggak manusiawi? Waktu kehamilan saya masih di trimester pertama, saya kan minta untuk gak piket malem. Mereka awalnya nggak ngasih tapi setelah debat sana debat sini dan ngancem resign baru deh mereka oke. Mustinya, mereka mikir dong, perempuan hamil disuruh begadang semalaman. Emang mereka nggak pernah liat istri mereka hamil apa?

Belom lagi asuransi yang dikasih itu abal-abal. Dimana-mana, perusahaan ngasih biaya untuk check-up kehamilan itu paling gak 9 kali check-up. Nah ini, cuma sekali pake. Pas saya tanya ke HRD, jawaban yang saya dapet itu konyol banget. "Loh emang mba mau periksa kehamilan sebulan sekali?" gue jawab aja, yaiyalah. Mas ini kayak gak punya istri aja. Dalam hati, mungkin bininya gak pernah hamil makanya dia gak tau.

Belum lagi urusan cuti, wah kayaknya mereka nggak ridho banget kalau buruhnya cuti. Giliran atasan atau asred yang cuti, langsung acc. Konyol, cuti kan hak kita, mau leyeh-leyeh doang kek, urusan kita dong.

Masih banyak lah kekecewaan yang lain yang ujung-ujungnya membuat saya mau resign setelah jatah cuti tiga bulan saya dapetin. Cuti kelar, saya langsung cabut. Mereka aja melanggar undang-undang, saya juga bisa melanggar aturan perusahaan yang nggak ada catatan hitam diatas putih itu yakni sebelum resign paling tidak ada pemberitahuan dua minggu atau satu bulan sebelum resign.

Masa bodo dengan aturan itu, resign mendadak adalah salah satu cara saya untuk membalas kekejian mereka. Toh nggak ada benefit yang berarti kalau saya bertahan di sana. Kalaupun jadi karyawan tetap gaji saya nggak akan naik. Yang membedakan antara karyawan tetap dengan karyawan kontrak cuma satu. Kartu jamsostek. Amboi, kalau hanya Jamsostek, ngapain saya lama-lama di sini. Mending saya buka asuransi pensiun di tempat lain, yang benefitnya jauuuh lebih oke.

Atas alasan-alasan lain yang nggak mau saya sebutkan di sini, saya harus menyudahi kerja sama yang tidak menguntungkan ini paling lambat Maret 2011. Oke, memang dalam hidup, manusia cuma bisa merencanakan, berusaha, dan berdoa. Berhasil atau tidaknya tergantung Allah, Tuhan kita semua.

Misalnya kayak planing saya ini. Saya berencana untuk nggak kerja setelah melahirkan Kaka. Setelah masa cuti habis, saya mau cabut dari okezone.com. Selain karena kecewa berat sama manajemen okezone, saya mau total ngurus Kaka sampai kira-kira Kaka bisa ditinggal sama pengasuh atau sama neneknya. Mungkin paling cepet pas umur Kaka setahun saya udah harus kerja lagi. atau paling lambat ya tiga tahun. Tapiiii, planing saya bisa berubah. Misalnya, kalau saya terjebak sama keadaan yang nggak memungkinkan untuk resign, seperti Seno tiba-tiba dipecat sebelum saya mengundurkan diri.

Kalau-pun harus tetap bekerja, saya nggak mau di okezone lagi. Mungkin di masa-masa cuti saya bisa sambil ngelamar-ngelamar di tempat lain. Kenapa nggak tinggal lebih lama lagi di okezone?

No, perusahaan itu sampai kapanpun nggak akan membuat gaji saya naik. Mereka nggak menghargai pekerjanya sendiri, curang dan banyak lagi. Saya masih bertahan karena saya sedang hamil, saya nggak mau nggak dapat tunjangan di hari raya dan saya tetep mau dapet gaji setidaknya selama masa cuti melahirkan. Kejamnya, mereka sama sekali nggak mengganti biaya persalinan saya. Asuransi yang diberikan pun abal-abal.

Pokoknya sih saya bertekad bulat untuk hengkang dari okezone setelah cuti berakhir. Nggak peduli melanggar aturan atau apa. Rencana resign dari okezone sudah terpatri dalam hati.

Saya butuh suasana baru, atasan baru, gaji baru dan pastinya meningkat dari sebelumnya, manajemen kantor yang lebih baik, dan pro rakyat. *ngimpiii kali ye.. buka usaha sendiri sono kalau mau*

You right Pak Mario Teguh.. Anak buah membayar pengabdiannya kepada atasannya dengan usia. Jika anak buah salah memilih atasan, maka dia akan menyia-nyiakan usianya. Jika dia tidak menghormati anda dan tidak memungkinkan anda untuk menjadi pribadi yang mandiri dan terhormat, untuk apakah anda berlama-lama dibawahnya?

Rezeki Tuhan tersebar di muka bumi dan siap diunduh oleh jiwa yang tegas bagi kebaikan hidupnya.

Cinta Setelah Menikah Itu Ibadah


Sejak menikah saya nggak pernah bicara lagi soal cinta, soal sayang, soal perhatian dan kerinduan.. Soalnya, semua sudah saya dapatkan. Dari dia. Seno, my husband.

Setiap tindakan, pikiran dan rencana-rencana yang saya buat mencermintakn cinta, sayang dan kasih saya yang besar untuk dia. Satu tahun sudah berlalu, saya tahu sebagai istri, saya nggak sempurna. Saya punya segudang kekurangan baik fisik maupun nonfisik. Insya Allah saya nggak malu untuk terus berbenah diri jadi istri yang baik dan kelak jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya.

Sebagai istri, semua saya kerjakan sebisanya, semampu saya, semaksimal yang bisa saya berikan untuk rumah tangga kami. Rasa percaya, berusaha untuk selalu jujur, saling mendukung dan saling mendoakan kesuksesan dan kesehatan satu sama lain itu mutlak dilakukan. Setidaknya bagi saya.

Setelah menikah, maka apa yang saya perbuat tercatat sebagai ibadah. Perbuatan sepele apapun, mulai dari masak, nyuci piring, bersih-bersih rumah, nyuci, nyetrika, nyiapin makanan dan sebagainya jadi ibadah. Perbuatan buruk yang saya lakukan tercatat sebagai dosa. Dan setelah menikah, cinta, kasih dan sayang seorang istri pada suami juga terhitung ibadah. Sejak saya tahu bahwa menikah itu ibadah, saya jadikan menikah sebagai ladang ibadah saya, tempat saya meraup pahala sebanyak-banyaknya. Walau kadang, keluhan tidak jarang terucap dari mulut saya. Wajar, karena saya manusia biasa.

Setahun lebih menikah alias berumahtangga, saya belajar banyak hal dari pasangan saya, keluarganya, dari orang tua saya dan lingkungan saya. Saya belajar sabar ngadepin cobaan, belajar mengatur keuangan agar kami bisa menabung, belajar mengatur waktu dan belajar jadi orangtua. Kadang, saya meminjam Zahra -adik saya yang paling bontot- untuk latihan. Latihan kesabaran dan menyelami dunia anak-anak. Saya percaya, apa yang kita perbuat dampak langsungnya langsung ke diri kita. Untuk itu, saya berusaha banget agar perbuatan saya selalu terjaga, hati-hati dan penuh perhitungan.

Saat saya datang terlalu pagi di Press Room Istana Negera, Selasa 28 September 2010..

Selasa, 16 November 2010

Hamil, Salah Satu Bukti Bahwa Allah Maha Kuasa


Memang benar apa kata para pendahulu, bahwa proses kehamilan, melahirkan dan bahkan saat membesarkan anak Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Kita, manusia, akan merasa begitu kecil dan nggak punya daya apa-apa dibawah genggaman-Nya. Dan lewat kehamilan, menunjukkan satu bukti kecil bahwa Allah Maha Kuasa..

Tadi pagi, sebuah keajaiban kasih unjuk ke saya sama Seno. Sejak semalam, kami udah berdiskusi panjang lebar mengenai beberapa rumah sakit yang akan dipilih untuk sesar. Nah, dipilihlah RS Budi Kemuliaan. Secara jarak, jelas sangat jauh dari rumah, tapi kalau dipikir-pikir, di RS Budi Kemuliaan selain biaya yang sangat terjangkau dengan fasilitas komplit dan pelayanan yang Insya Allah memuaskan akan kita dapatkan.

Misal gini deh, untuk perbandingannya, di RS As-Syifa Medical Center deket rumah aja untuk kelas 2 saya bisa ngabisin sekitar 7-8 juta. Nah di RS Budi Kemuliaan, dengan budget yang sama saya bisa dapat kelas 1. Dan yang penting bisa ditungguin 24 jam sama anggota keluarga. Nah, lagian saya dan Seno juga sreg-nya di RS ini. Ya udah deh, sepakatlah kita pagi-pagi ke RS Budi Kemuliaan buat daftar.

Selepas salat subuh, kita mandi dan sarapan ekspres. Saya minum susu, Seno ngopi dan sedikit mengunyah roti tawar. Jam 7.30 pagi kita sampai dan langsung naik ke lantai 2. Setelah daftar pasien berjenjang atau pasien dengan bidan, kita disuruh nunggu sekitar 10 menit. Nggak lama kita dipanggil dan dikasih penjelasan sama petugas registrasi. Petugas yang umurnya kira-kira 50 tahunan itu menjelaskan ke kita, bahwa kelas berjenjang diprioritaskan untuk mereka yang kurang mampu. Masih penjelasan wanita paruh baya itu, katanya melihat riwayat saya yang pernah ditangani dokter di RS Hermina dan melihat faktor sosial juga, kita disarankan sebaiknya mengambil kelas dokter pribadi alias dokter spesialis.

Beliau ini juga menjelaskan bahwa kemudahan yang didapat pasien dokter pribadi lebih banyak, memang ada uang ada mutu. Misalnya gini, katakanlah saya harus disesar ditengah persalinan normal. Kalau pasien berjenjang itu akan melewati prosedur yang cukup panjang dan memakan waktu, sementara kondisi saya yang mungkin saat itu berkejaran dengan waktu jadi menghambat.

Karena kalau pasien berjenjang jelas nggak boleh memilih dokter spesialis yang diinginkan. Prosedurnya adalah riwayat kesehatan pasien harus dilaporkan dulu ke dokter spesialis yang jaga, terus ke dokter umum, dan beberapa tindakan lain yang memakan waktu. Sementara kalau pasien dokter pribadi si pasien langsung ditangani dokter pribadi itu tanpa melewati prosedur yang rumit. Oke, penjelasannya masuk akal juga. Kita nggak mikir panjang lagi karena waktu udah mepet, toh kalau memang mau balik ke jenis pasien berjenjang pasti boleh.

Yang dibenak saya waktu itu adalah gimana saya bisa diperiksa dokter saat ini juga, di USG dan tahu kondisi Kenzie. Titik! Persoalan pindah jenis pasien itu belakangan. Kita bertiga, saya, Seno dan petugas registrasi tadi naik ke lantai 3, tempat pendaftaran pasien dokter pribadi. Petugas tadi bicara sama petugas registrasi di lantai 3 dan kita pun disuruh nunggu.

Nggak sampai 10 menit, saya ditensi dan ditimbang. Disuruh nunggu untuk USG dan baru setelah itu ketemu dokternya. Saya dapet dokter Dwiarti Soebarkat SpOG. Saya nunggu sekitar 30 menit di depan ruang USG. Nama saya pun dipanggil dan seperti USG pada umumnya, saya disuruh berbaring dan perut saya diolesi gel. Disinilah keajaiban itu Allah tunjukkan. Tidak ada masalah dengan kandungan saya, meski belum masuk panggul, letak Kenzie sudah di bawah dan tidak sungsang. Kabar menggembirakan itu saja sudah membuat hati saya dan Seno melambung.

Saat saya tanya apa ada lilitan tali pusar, petugas itu belum bisa memastikan karena teknologi USG 2 Dimensi nggak bisa sedetail itu, dia hanya melihat ada plasenta disekitar lehernya, tapi belum pasti apakah itu hanya menempel atau benar-benar terlilit. Sepertinya, untuk memastikan ini saya tunggu dokter Bob pulang haji deh. Tanggal 22 atau 23 saya ke kliniknya. Kan deket dari kantor saya.

USG pun beres, antri lagi sekitar 10 menitan, dan ketemulah saya dengan dr Dwiarti, kalau nggak salah dokter ini dokter yang sama kayak dokternya sepupu gue Nunik deh. Pertama kali ketemu, saya pikir orangnya masih muda, nggak taunya udah berumur. Boleh dibilang senior lah beliau. Secara general, orangnya sangat komunikatif dan nyaman diajak bicara. Dan yang bikin saya heran, waktu perut saya dicek sama dia, pengecekan yang sama seperti yang dilakukan bu Bidan Eka kalau saya periksa, kok perut saya lentur gitu ya, dan beliau dengan mudah meraba kepala, pantat dan punggung Kenzie. Berbeda jauh saat saya ditangani bidan Eka. Perut saya keras di bagian bawah dan hanya teraba bagian atasnya aja. Mungkin bagian keras di atas perut saya dianggap kepala, makanya beliau bilang Kenzie sungsang.

Apa iya janin bisa milih tenaga medis yang akan menanganinya? Wallahualam kan...

Setelah tau kondisi Kenzie, legaaaaa banget perasan saya dan Seno.. Beratnya udah 2,9 kilo dan dua minggu lagi saya disarankan cardio topography atau CTG untuk rekam jantung Kenzie. Mudah-mudahan Allah kembali memberikan kemurahan sama saya untuk melahirkan Kenzie dengan normal dan lancar. Maksudnya spontan tanpa tindakan gitu. Dengan kejadian hari ini, saya belajar bahwa kita sebagai manusia itu nggak ada apa-apanya deh dibawah genggaman-Nya.. Subhanallah deh, saya nggak berenti untuk bersyukur untuk itu.

Senin, 15 November 2010

Ini yang Perlu Bumil Pikirkan Saat Hamil

Minggu (14/11/2010) adalah hari terakhir periksa kehamilan saya di Bidan Eka. Bidan yang sudah puluhan tahun ini berjibaku dengan bumil dan anak-anak ini angkat tangan dan menyarankan saya untuk bersalin di rumah sakit alias disesar. Bagaimana dengan perasaan saya- terutama-, pasti sedih. Mungkin kesedihan juga tergurat jelas diwajah suami saya. Mungkin bukan perkara uangnya, Insya Allah kami sudah siap dengan dana yang kami miliki untuk sebuah operasi sesar. Tapi lebih ke penyembuhan sesudahnya. Yang menjadi pikiran juga, apa benar Kenzie terbelit tali plasenta. Saya pun harus sabar seminggu lagi karena dokter USG 4 Dimensi saya, dr Bob Ichsan Masri, sedang menunaikan ibadah haji. Beliau baru kembali praktek sekitar tanggal 22 November ini.

Memang tidak ada jalan lain selain saya harus sabar menunggu kepulangannya. Toh pada tanggal beliau kembali usia Kenzie belum cukup matang untuk dikeluarkan dari dalam rahim saya. Sepulang dari rumah Bidan Eka saya dan Seno hunting lokasi untuk operasi sesar. Rujukan dari bu bidan ya di RS-Asyifa Medical Center, Parung. Deket sih sama rumah, tapi dokternya -yang kebetulan dokter pertama saya, dr Iskandar- lagi haji. Masya Allah, saya sampek mikir.. dokter-dokter obgyn saya kok kompak betul. Haji kok barengan. Ya sutralah, toh ada dokter lain selain dia, tapi dokter itu dokter baru di As-Syifa.

Habis salat maghrib saya dan Seno kesana, nanya price list sesar berapa. untuk kelas 1 berkisar 9 jutaan belum termasuk obat, Kelas II berkisar 8 juta belum termasuk obat, Kelas III berkisar 7 juta belum termasuk obat. Sebenernya, saya udah hunting dari kemaren-kemaren sih soal harga persalinan di berbagai rumah sakit, saya ngeliat bukan cuma normalnya doang tapi harga sesar juga saya lirik. Yah, bukannya berharap disesar, tapi saya mengantisipasi kemungkinan terburuk saja. Dari pada nanti susah. Saran saya buat Bumil lain ya begitu, siapkan dua-duanya. Normal dan sesar. Siap fisik dan mental untuk moment tersebut. Nggak cuma itu, kesiapan financial akan membuat kita -calon Ibu- jauh lebih tenang dalam menghadapi persalinan. Entah normal atau sesar. Setidaknya itu pengalaman pribadi saya.

Saya sih terserah mau disesar di kelas apa dan di RS mana, asal bisa ditungguin, minimal satu orang stay 24 jam sama saya. Jadi saya nggak kesusahan nanti begitu operasi selesai. Saya dengar cerita adik ipar saya, betapa dia begitu menderita setalh disesar, karena kelas di RS Budi Kemuliaan yang diambilnya tidak mebolehkan satu anggota keluarga, meskipun suaminya untuk tinggal bersamanya selama 24 jam. Udah gitu suster-suster di kelas 3 judes-judes semua, sama sekali nggak helpfull deh.

Masalah dana Insya Allah sudah disiapkan. Udah deh, saya makin sedih kalau mikirin ini. Kata orang, positif thingkin dan berdoa banyak-banyak bisa merubah keadaan. Saya melakukan itu tapi tetap sambil mikir kemungkinan terburuk.

Selasa, 09 November 2010

Saya Nunggu Keajaiban dari Allah

Istana Presiden, Selasa 9 November 2010.

Minggu ini kehamilan saya memasuki usia 36 minggu dan posisi Kenzie belum juga berubah. Kepala Kenzie masih di atas. Semalem sih udah ke Bidan Eka dan beliau nyuruh saya untuk USG lagi. Oke, saya memang mau USG lagi, tapi nanti tunggu dokter Bob pulang dari Tanah Suci atau sekitar tanggal 22 November. Tiga minggu dari sekarang. Tak apa-lah menunggu tiga minggu, toh saat dokter Bob pulang usia Kenzie didalam kandungan udah masuk 38 minggu. Usia yang pas untuk dilakukan tindakan sesar, jika memang harus sesar.

Tapi sejauh ini, saya masih optimis dan berusaha untuk membuat kepala Kenzie masuk panggul. Saya percaya, didalam sana Kenzie pasti berjuang untuk mencari jalan ke panggul. Upaya saya untuk membuka jalan ke Kenzie bukan sehari dua hari, saya sudah lakukan ini sejak diketahui kepala Kenzie masih di atas, atau sekitar minggu ke 33. Karena minggu-minggu sebelumnya Kenzie udah di bawah kepalanya. Hanya Allah yang Maha Tahu kenapa bisa terjadi seperti ini.

Yang saya percaya, bahwa proses terbentuknya manusia didalam rahim sepenuhnya kekuasaan Allah. Saya sebagai manusia tugasnya hanya menjaga, berusaha agar anak ini tetap sehat, membekali dia dengan ilmu yang saya miliki dan berdoa kepada Allah agar anak ini diberi kesempurnaan fisik dan jasmani dan sebagainya. Sisanya, tergantung bagaimana Allah.

Setelah rutin berminggu-minggu saya nungging tapi kepala Kenzie nggak juga turun, ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, leher Kenzie terlilit plasenta dan kedua plasenta saya yang pendek. Sebetulnya ada alternatif lain agar kepala Kenzie bisa masuk panggul, yaitu diputar dari luar tapi tindakan ini membahayakan nyawa Kenzie. Disamping itu, dunia medis sudah 'mengharamkan' hal ini. "Kita tidak bisa memaksakan posisi bayi mau seperti apa, biar dia sendiri yang menentukan mau bagaimana, dicoba lagi aja ya nunggingnya, kalau minggu depan memang nggak bisa ya terpaksa harus melahirkan di rumah sakit (alias disesar)," kata bu Bidan Eka semalem.

Saya sudah antisipasi kalau memang jalan sesar harus ditempuh. Setidaknya saya dan Seno sudah menyiapkan budget yang terjangkau untuk biaya sesar. Bukannya saya patah semangat untuk melahirkan normal. Tapi, apa iya saya nggak menyiapkan rencana-rencana lain selain bisa normal. Dalam kelahiran bukannya hanya dua alternatif, dan baik yang sudah dinyatakan bisa normal sekalipun juga harus menyiapkan biaya lebih untuk sesar kan?

Saya dan Seno juga begitu. Syukur-syukur kalau memang nggak jadi sesar. Saya dan Seno juga nggak mungkin ngambil resiko yang membahayakan nyawa Kenzie. Bu Bidan yang udah pengalaman puluhan tahun jadi bidan udah bilang kayak gitu. Nah, saya tinggal nunggu dokter Bob pulang dan menunggu rekomendasi dari dia.

Saya cuma nggak ingin mengalami kejadian kayak adik ipar saya. Udah di USG 2 kali, tapi USG-nya 2 dimensi, nggak kedeteksi tuh anaknya kelilit tali plasenta. Akibatnya, dia harus mengalami rupa-rupa tindakan, mulai dari induksi, dimasukkan balon ke vaginanya atau entah apa, yang intinya usaha untuk mengeluarkan anaknya, entah rasa sakit yang seperti apa yang sudah dia rasakan. dan ujung-ujungnya disesar juga karena ternyata anaknya terlilit tali plasenta.

Mungkin, kesalahan dia adalah dia nggak nyoba untuk USG 4 Dimensi. Atau mungkin juga dia nggak tau atau nggak punya biaya untuk USG 4 Dimensi. Bukannya rasa sakit yang saya takutkan, tapi lebih ke efisiensi waktu dan biaya. Coba deh, untuk melewati tindakan yang saya ceritain dia ngabisin berapa hari di Rumah Sakit Budi Kemulyaan, ada kali ya dua hari, baru deh malemnya diputuskan untuk disesar karena denyut jantung anaknya melamah. Nah, dengan tahu secara dini, berarti kan saya dan Seno udah tau apa yang harus dilakukan. Saya nggak mau memaksakan untuk normal jika memang tidak memungkinkan untuk dilakukan itu. Tapi selagi peluang untuk normal ada, saya dengan senang hati melakukan usaha apapun.

Seorang teman membesarkan hati saya lewat chating kemarin. "Setiap anak punya jalan lahir sendiri dari Allah,"

Ya, saya percaya, Allah punya cara sendiri untuk mengeluarkan Kenzie.

Jumat, 05 November 2010

Ultah ke-26 dan Erupsi Merapi di Yogyakarta

Istana Negara, Jumat, 5 November 2010, pukul 17.55 WIB

Hari ini saya genap berusia 26 tahun. Setiap saya berulang tahun, tak pernah saya mengharapkan kado berbentuk barang dari siapapun. Entah dulu saat masih berpacaran atau kini sudah menikah, atau dengan keluarga dan teman sekalipun. Doa-doa yang mereka ucapkan sudah lebih dari cukup untuk menyenangkan hati saya. Karena saya berfikir, diantara puluhan doa tersebut pasti ada satu atau dua orang yang doanya diijabah oleh Allah SWT.

Berhubung saya sedang hamil, lebih tepatnya menjelang melahirkan, doa terbanyak yang mereka panjatkan untuk saya adalah agar saya dimudahkan dalam melahirkan Kenzie nanti. Penggalan doa itu begitu menyentuh saya, karena doa yang sama saya baca berkali-kali baik di dalam hati maupun lisan. Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas paket-paket doa tersebut.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi hari ini. Yang paling menyedot perhatian adalah erupsi Gunung Merapi yang sangat dasyat dini hari tadi, lebih dari 100 orang meninggal terpanggang hidup-hidup karena awan panas bersuhu 600-800 derajat celsius. Hari ini, semua isu lewat. Semua redaktur, reporter dan petinggi negeri fokus ke Merapi.

Istana nggak kalah heboh, secara mendadak Presiden memutuskan untuk berkantor ke Yogyakarta sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Selepas salat Jumat, Presiden rapat terbatas dengan sejumlah menteri terkait yang mengurusi masalah bencana. Menjelang asar,Presiden menggelar konferensi pers. Paspampres, orang biro pers istana dan wartawan yang mau berangkat ke Yogyakarta tergopoh-gopoh menyiapkan ini itu untuk keperluan di sana.

Saya, yang sedang meliput di Istana juga nggak kalah sibuk. Alhamdulillah Kenzie mengerti kalau mama-nya sedang disibukkan dengan berita-berita Merapi. Jangan tanya bagaimana perasaan saya hari ini, saya terharu dan bahagia dengan doa-doa dari teman-teman saya dan sekaligus sedihnya bukan main karena nggak tega liat korban letusan Gunung Merapi. Yogyakarta berubah menjadi abu-abu.

Ya Allah, semoga engkau segera menyudahi musibah ini. Bagi yang wafat, berikan mereka surga-Mu dan bagi mereka yang masih hidup, berikan mereka ketabahan dan kesabaran untuk menghadapi cobaan-Mu.. amien.

Senin, 01 November 2010

Kenzie Apta Abimanyu

Sebetulnya saya punya pilihan sendiri untuk nama anak saya. Nama yang sangat Islami. Ada dua nama yang bagus untuk dia yaitu Labib Akmal Basyar dan Bilal Ar Rabah. Tapi, suami saya kurang suka dengan nama-nama yang berbau Islam. Bukannya membenci nama Islam. Dia cuma khawatir nama Islami akan memberatkan dia, entah urusannya dengan akhirat atau urusan dunia. Ya pokoknya nggak sreg aja deh. Daripada gara-gara nama nanti jadi ribut, saya ngalah dan kami browsing berdua.

Akhirnya, suatu malam, kami berdua browsing di internet. Kita sepakat untuk memberi nama dari bahasa manapun asal bukan nama Islami. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan nama untuk anak kami.

Karena menurut USG anak kami laki-laki, ditambah diperkuat dengan USG 4 dimensi pun hasilnya sama. Kami memutuskan untuk mencari satu nama. Wallahualam kalau ternyata Allah berkehendak lain. Kami tinggal mencari lagi, mudah kan..

Akhirnya kami menemukan nama depannya. Kenzie, orang mengira nama ini dari bahasa Jepang, tapi Kenzie berasal dari bahasa Sangsekerta yang artinya pemimpin yang bijaksana. Tidak sampai hitungan jam, kami menemukan nama tengah dan nama akhirnya. Dua nama Jawa yaitu Apta dan Abimanyu. Apta yang memiliki cerdas dan pandai. Abimanyu yang artinya tidak takut menghadapi kesulitan.

Jadi kalau digabung Kenzie Apta Abimanyu. Terkandung didalamnya doa dari kami, orangtuanya, bahwa kelak dia akan menjadi pemimpin yang bijaksana, cerdas dan pintar serta tidak takut menghadapi kesulitan apapun. Nama yang gagah bukan? *narsis ya saya*

Sejak kami menemukan nama untuk Kenzie. Kami tidak lagi memanggil dia dengan Kaka. Sepertinya Kenzie suka dengan namanya.. Dan sudah mengerti kalau namanya dipanggil Kenzie akan bergerak-gerak didalam perut saya.. Subhanallah.

6 Minggu Lagi, Insya Allah Saya Jadi Ibu

Saya berada di minggu-minggu terakhir masa kehamilan. Lebih tepatnya 6 minggu lagi menjelang persalinan. Itu masih prediksi manusia, entah ketetapan Allah bagaimana. Mungkin bisa maju bisa juga mundur. Yang saya percaya, kapanpun saatnya melahirkan nanti, Allah sudah memiliki perhitungan sendiri. Soal caranya bagaimana, entah normal atau sesar, entah di rumah sakit atau di rumah bersalin milik bidan eka, atau malah mungkin di rumah sendiri. Tidak ada yang tahu. Manusia hanya berusaha dan berdoa. Saya pun demikian, di usia kandungan yang memasuki 34 minggu, kepala bayi saya masih betah berada di atas, alias masih sungsang. Padahal, usia seperti ini harusnya dia sudah mapan di panggul saya. Tapi siapa yang tahu dia akan membalikkan kepalanya kapan. Yang penting, dua minggu ke depan -sampai usia kandungan saya 36 minggu- saya harus banyak-banyak nungging. Persoalan berhasil atau tidak itu urusan Allah, saya berusaha saja semaksimal mungkin.

Saya bersyukur bisa melewati 34 minggu dengan baik. yaaa walau dalam perjalanannya saya sering mengeluhkan ini dan itu. Kadang saya nggak bersyukur dengan kehamilan ini -kalau lagi cuapeeek banget sama keadaan-. Kadang pengen cepet-cepet mengakhiri masa kehamilan ini biar beban saya lepas. Maksudnya, beban yang saya bawa-bawa ini looh..

Yang jarang diakui ibu hamil, bahwa hamil itu setengah menyenangkan dan setengah menyebalkan. Saya mengakui itu. Namanya juga manusia, ada saja kan keluhannya.. Sejauh ini, mau senang, mau menyebalkan, saya berusaha menikmatinya..

6 minggu lagi.. Insya Allah saya jadi Ibu.. Ibu untuk Kaka.. Ngomong-ngomong, saya udah nggak sabar kepingin melihat anak saya lahir di dunia.. Doakan yaa.

Jumat, 15 Oktober 2010

"Doa untuk Anakku.."


"Ya Allah jagalah anakku selama ada di dalam kandunganku..Ya Allah bentuklah dia dalam kandunganku dengan bentuk yang bagus dan tetapkanlah iman hatinya padaMu dan utusanMu..Ya Allah keluarkanlah dia dari kandunganku pada waktu aku melahirkan dengan mudah dan selamat..Ya Allah jadikanlah dia orang yang sehat, sempurna, punya akal, cerdas, alim mau mengamalkan ilmunya.Ya Allah berilah dia umur panjang, badan sehat dan budi pekerti yang baik, dan berilah lisan yang fasih serta berilah suara yang baik guna untuk membaca hadist dan Al qur'an dengan mendapat berkahnya nabi Muhammad SAW..Segala puji bagi Allah yang menguasai sekalian alam."

Tarif Periksa Kehamilan dan USG 4D di dr Bob Ichsan Masri, SpOG

Yang mau ke dr Bob Ichsan Masri, SpOG ini tarifnya.. yaaa buat persiapan aja kalau mau ke sana musti bawa duit berape, gitu.. Administrasi 5.000 buat yang baru daftar.Tarif di sini kata mba resepsionisnya belon termasuk vitamin ama obat... jadi spare duit aje secukupnya, ya kira-kira 200 atau 300 rebu lah...

1. Konsultasi doang Rp 75.000

2. Konsultasi + USG 4D Rp 100.000

3. Konsultasi + USG 4D + Print Rp 150.000

4. Konsultasi + USG 4D + Pakai CD (Divideoin) Rp 250.000

5. Konsultasi dokter + Kolposkopi + Pap Smear Rp 150.000

6. Ozone Mayor Therapi Rp 325.000

7. Vaginal Ozone Care Rp 200.000

8. Persalinan normal dan rawat inap Rp 750.000

9. Operasi Sectio Caesaria + rawat inap Rp 4.500.000

10. Operasi Tumor, kista, miom Rp 5.300.000

11. Hymenoplasty Rp 3.000.000

12. Vaginoplasty Rp 4.000.000

13. Pakety vaksinasi kanker serviks special (USG 4D, Kolposkopi dan Pap smear) Rp 3.600.000

Nah coba bandingin di RS Ibu dan anak lainnya yang menyediakan fasilitas ini, jauuuuuuh kaaaan??? Saya aja periksa doang di RS Hermina Depok konsultasi sama USG 2 Dimensi dengan waktu yang gak sampek 5 menit musti bayar Rp 111.000 belum termasuk vitamin atau obat dari dokter.

Nih, saya kasih lagi deh alamatnya sama posisi tepatnya..

Harmoni Obginozone Health Center Komplek Harmoni Plaza Blok B30-31 Jalan Suryo Pranoto No 2 Jakarta Pusat. Telpon 021-6316043, 6330938.. Posisi tepatnya, tau perapatan Harmoni Jakarta Pusat? nah disebelah kiri menuju arah Harmoni ada Bank UOB, yang catnya warna hijau, masuk ada ke dalem komplek ruko-ruko itu, kalau yang bawa kendaraan begitu masuk langsung ketemu sama tukang parkir, ambil karcis parkir, trus jalan dikit belok kanan, nah ruko atau klinik dr Bob ada di sebelah kiri. Kalau masih bingung juga, tanya aja satpam yang jaga di parkiran itu..

Semoga membantu ya..

Selasa, 05 Oktober 2010

Pasokan Darah ke Anakku Ternyata Cuma 35 Persen


Dari hasil USG 4 Dimensi kemarin, ada satu bagian dimana saya kuatir sama anak saya. Ternyata, pasokan darah (yang didalamnya ada nutrisi dan sebagainya) cuma sampe 35 persen.

Ceritanya gini, setelah USG saya dikasih vitamin dan sejenis obat mirip kapsul minyak ikan. Saya tanya ke susternya.

Saya: Ini obat apa? saya nggak minta vitamin atau apa loh sus, soalnya saya udah punya vitamin, kapsul mineral sama kapsul kalsium dari bidan dan dokter saya di rumah sakit lain

Suster: Tapi yang kayak kapsul ikan ini resep dari dokter Bob. ini untuk melancarkan pasokan darah ke janin.

Saya: Perlu ya?

Suster: Kalau menurut saya perlu, soalnya kasus kematian janin di dalam rahim itu salah satunya penyebabnya ini, penyumbatan aliran darah ke janin. nih ibu liat hasil USG-nya (dia tunjukin USG pas dibagian aliran darah)

Saya: (mikir bentar, ya ampun kenapa saya luput ya sama USG di bagian aliran darah ini. aduh saya agak kaget dan sedikit panik, tapi tenang tenang anak gue gak apa-apa, kata saya dalam hati) tapi dokter Bob gak bilang apa-apa ya tadi. Mungkin lupa kali ya, karena masih ada pasien yang nunggu pula.

Suster: Jadi gimana nih? diambil nggak bu?

Saya: oke saya ambil.

Tadinya, saya mau nungguin dokter Bob sampai dia selesai dengan dua pasiennya, tapi kalau ngeliat waktu yang udah beranjak malem dan takut nggak ada kereta ke Depok. Saya putusin untuk menunda hingga besok pagi. Saya percaya anak saya baik-baik saja dan berdoa banyak-banyak, minta supaya Allah menjaga dia.

Sampai rumah, saya bilang sama suami saya pelan-pelan. Bagaimana reaksi dia? lebih panik dari saya. Tapi malam itu, kami berdua cuma bisa berdoa agar anak kami baik-baik saja.

Besoknya atau hari ini, saya telpon ke klinik dr Bob, saya minta nomer handphone dr Bob ke dia. nggak nunggu lama, saya nelpon dr Bob.

dr Bob ngejelasin ke saya kalau itu masih aman dan nggak ada dampak yang fatal. aduh beda banget sama penjelasan suster semalem. dr Bob nggak negejelasin ke saya tadi malem karena menurut dia nggak sefatal yang saya bayangin.

Saya: Dampak paling fatal apa sih dok?

dr Bob: Ibaratnya begini bu, kalau ada lima ruas jalan tol dan di tiga ruas ada mobil mogok, ibu bisa jalan nggak? yang lancar kan cuma dua ruas kan? nah sama kayak pasokan darah ke anak ibu. percuma ibu makan dengan gizi tinggi tapi gak nyampe ke anak ibu? sayangkan.. nah untuk memperlancar itu, saya kasih obat semalem.

Saya: Ini akan berkelanjutan sampai anak saya lahir nggak?

dr Bob: Enggak, tenang aja. Insya Allah anak ibu baik-baik aja.

Saya: oke dok. makasih ya, maaf menganggu waktunya.

Alhamdulillah saya legaaa sekali. dan sekali lagi saya bersyukur banget udah ngejajal USG 4 Dimensi itu, coba kalau enggak mana tau kalau pasokan darah ke anak saya ternyata nggak 100 persen. Dokter saya di RS HD -yang pelit info itu- aja nggak pernah ngasih tau saya soal ini. Jadi sebel banget sama dia.

Setiap ditanya, anak saya gimana dia cuma jawab baik-baik aja.. gitu aja selama 7 kali periksa di sana. Pas ditanya berapa berat anak saya aja dia ngejawab dengan enteng "Kalau masih di bawah 7 bulan paling kurang dari sekilo"

Denger jawaban dia aja saya udah males buat mendebat. Untungnya bulan ini saya udah nggak balik ke dokter itu. Thanks ya Osa udah nunjukin Klinik dr Bob ke saya.

Setau saya, salah satu tujuan USG 4D memang mendeteksi hal-hal yang kayak gini. Gambar juga lebih jelas dan mungkin ditunjang sama dokter yang me-USG kita itu informatif atau enggak.

Selama periksa di RS HD dan USG di sana, boro-boro diterangin dengan detail. Ditanya apa aja jawabnya medit banget dokternya.

Dari USG 4D, dr Bob ngasih penjelasan tertulis kurang lebih gini ukuran semua anggota badan normal sesuai dengan usia kandungan, plasenta juga ada di tempat semestinya (bukan plasenta plevia atau plasenta yang menutupi jalan lahir), cairan ketuban cukup jernih dan berat janin 1.623 gram dan Insya Allah bisa melahirkan normal. Amien.

Seneng deh denger penjelasannya. Ada satu wejangan yang nggak akan pernah saya lupa dari dr Bob waktu periksa kemarin.

"Saya percaya vagina adalah jalan bayi dari Tuhan, secara kode etik dokter hanya boleh mengcaesar pasien kalau pasien dalam keadaan tekanan darah tinggi, plasenta pevia, dan ada kelainan lainya. Kalau alasannya kelilit tali puser dan harus di operasi itu bohong, tali puset itu lunak dan tidak akan membunuh bayi. Air ketuban habis aja masih bisa normal, dokternya aja nggak sabar. Jadi, kalau vagina adalah jalan dari Tuhan masa kita nggak percaya dan mau melawan-Nya?"

Apapun itu, terimakasih dokter Bob..

Ini contoh hasil USG di bagian pembuluh darah bayi, kalau nggak salah yang naik turun ini grafik aliran darah ke bayi, dan perhatikan kode RI 0.65.. itu yang menandakan berapa persen pasokan darah ke bayi kita..

USG 4 Dimensi yang Murmer di Klinik dr Bob Ichsan Masri

Senin 4 Oktober 2010

Tulisan ini buat para calon ibu, calon ayah, Bumil, ibu dan ayah..

*Tulisan ini cuma opini pribadi, mohon maaf apabila penggunaan kata atau bahasa yang dipakai tidak berkenan dihati*

Kira-kira jam 5 sore, saat Istana Presiden aman buat ditinggal saya pergi ke klinik dr Bob Ichsan Masri di belakang Bank UOB Harmoni, Jakarta Pusat, untuk njajal USG 4 Dimensi yang katanya murah banget. Nggak sampai lima menit saya udah nyampe di depan klinik dr Bob. Saya datang sendiri ke klinik itu karena mumpung sempet, kalau nyocokin jadwal sama suami nggak bakal kesampean kayaknya.

Lokasinya ngumbet dibalik Gedung Bank UOB dan terkesan kumuh, spooky pula. Mungkin mirip klinik-klinik ilegal. Di atas pintu -kalau nggak salah liat- ada tulisan Harmoni Obginozone Health Center Komplek Harmoni Plaza Blok B30-31 Jalan Suryo Pranoto No 2 Jakarta Pusat. Telpon 021-6316043, 6330938

Pintu kliniknya didominasi sama kaca berwarna gelap transparan, dibaliknya ada poster gede, saya lupa itu poster apa. Awalnya saya ragu karena suasana di dalam klinik agak spooky. Penerangan yang seadanya, meja resepsionis yang gelap dan nggak ada yang nunggu, di sebelah kiri ada tempat brosur yang lusuh dan sepanjang sebelah kiri menuju tangga ada bangku kumal yang di atasnya terpajang foto hasil USG 4 Dimensi, foto bayi yang mungkin lagi tidur didalam rahim. Disamping kiri, entah ada ruangan apa yang ditutupi tirai warna putih.

Menapaki anak tangga pertama, saya masih agak ngeri untuk melanjutkan. Samar-samar saya denger ada orang ngobrol di lantai dua. Tangganya terbuat dari kayu dan di sisi kanan tangga ada dua papan panjang dan baru saya tahu ternyata dua papan itu akan dibentangkan kalau ada pasien yang dibawa pakai kursi roda atau didorong berikut sama kasur-kasurnya. Amboi, saya ogah ngebayangin lebih jauh. Yang ada dipikiran saya saat itu, pasti tim medisnya berjuang ekstra keras untuk membawa naik atau turun sang pasien di ranjang atau kursi roda. Tapi yang bikin saya geli, gimana ya kalau si pasien sampe nyusruk mengingat tangganya agak-agak berdiri. hihihih..

Di lantai satu udah ada dua pasien yang nunggu. Oh syukurlah karena Jumat lalu saya membatalkan USG karena saya dapat urutan ke 10. sementera USG 4D di sini minimal 20 menit per orang dan maksimalnya lebih dari satu jam. Suasana lantai dua masih mending, walau agak-agak spooky. Kesan kumuh masih keliatan di sini. Beberapa benda terlihat terletak nggak seperti tempatnya. Ada meja resepsionis yang pas saya intip berantakannya nauzubillah. berkas-berkas pasien tertata nggak beraturan. Segala suntikan, vitamin atau obat-obatan tumplek di situ. Wallpaper-nya warnanya kuning bladus gitu dan udah pada ngelotok di sana sini. Ya ampun, ini orang bikin klinik nggak niat amat. Pikir saya waktu itu, menambah keraguan.

Di belakang bangku resepsionis -agak geser ke kanan- ada pintu ruangan lagi. samping kanan ruang rawat inap yang pas saya longok ada dua tempat tidur pasien. Ah nggak buruk-buruk amat ruanganya, mungkin kalau di rumah sakit sekelas sama kelas 2 atau 2 A. Ruangannya ada AC-nya dan TV. Sementara ruang sebrangnya dipakai untuk terapi ozone. Di lorong yang memisahkan antara ruang rawat inap dan terapi ozone ada inkubator untuk bayi dan timbangan bayi. Di dinding persis di atas timbangan bayi ada gambar timbul wanita yang sedang mengandung bayi dan keterangan-keterangan di samping bayi. Di situ juga ada sofa warna krem, lumayan bersih dan empuk.

Balik lagi ke depan meja resepsionis. Disamping resepsionis ada meja kecil yang atasnya ada dispenser, teh, gula, kopi, dan beberapa gelas. Silahkan buat minuman sesuka anda dan itu free. Karena haus saya minta segelas air putih. Kalau nggak malu sih mau bikin teh heheheh.. di samping meja ada dua tempat tidur, sepreinya warna pink. Saya nggak ngerti kenapa ada dua tempat tidur di sini, mungkin buat pasien yang kelamaan nunggu bisa tidur-tiduran dulu di situ. Disampingnya lagi ada lemari sedang yang dipakai untuk skat, ooo ternyata ini musola klinik. Di depan musola kecil itu ada kamar mandi yang lumayan besar. Lampu kamar mandi yang cuma 5 watt, itu juga lampu kuning, nambah bikin serem. Di samping kamar mandi ada tangga menuju lantai dua dan sepanjang tangga menuju lantai 2 sama sekali nggak ada penerangan. Sumpah, ini orang medit banget sama lampu. Tapi saya nggak main-main ke lantai dua. Ogah!

Di depan meja resepsionis ada deretan bangku plastik -bangku yang suka dipakai kalau tetangga kita meninggal dunia itu loh-. Saya duduk di bangku tengah. Karena lagi ada yang melahirkan, suasana klinik agak riweh dan beberapa suster atau bidannya wara-wiri di depan kita-kita yang lagi nuggu antrian. Saya aja sampe lupa disuruh ngisi biodata. Tapi nggak lama saya disuruh ngisi biorata dan nunggu sekitar 1 jam lebih. Agak ngaret karena ada Bumil yang melahirkan anak yang kandungannya dibawah 7 bulan dan anaknya meninggal. Mendekati maghrib saya masuk ruangan.

Ruangan dokter Bob lumayan besar. Letaknya sejajar sama meja resepsionis lantai satu. Ternyata ruangan dokter Bob nyatu sama ruangan rawat inap tadi, ada pintu gesernya juga. Layaknya ruangan dokter Obgyn lainnya, di situ ada tempat tidur yang agak tinggi, di depannya ada layar komputer yang gunanya biar pasien liat proses USG. Yah biar nggak capek nengok-nengok ke kanan. Di samping tempat tidur, ada alat entah apa namanya berikut tempat duduknya. Pas saya tanya dokter Bob, katanya alat itu dipakai untuk pasien yang mau pap smear.

Gimana wujud dokter Bob? dari mukanya mirip orang India, tapi ternyata dia blasteran Pakistan dan Padang. Badannya gemuk, mungkin beratnya lebih dari 100 kilo dan berkulit hitam. Kumisnya yang tebel bikin saya agak-agak takut buat negor. Mirip sama penjahat-penjahat bayaran di film-film India. hihihih. Serem kesannyatapi ternyata...... saya salah. Dokter Bob negor dan senyum duluan sama saya.

"Hallo bu"

"Hai dok.."

Layaknya USG di tempat lain, saya disuruh berbaring, perut saya diolesi gel sama susternya dan dokter Bob. USG-nya ada dua, USG 2 Dimensi dan USG 4 Dimensi. Digunakan bergantian, misalnya kalau mau liat bagian kepala pakai USG 2 Dimensi dulu trus dialihin ke 4 Dimensi. Ah nggak tau deh gimana proses kerjanya, yang penting saya nggak penasaran lagi liat anak saya di dalem. USG 4 Dimensi bukan buat gaya-gayaan, selain penasaran, saya kok punya filing gak bagus ya sama anak saya. Dan ternyata bener. Tapi di note lain aja saya cerita.

Sambil di USG dokter Bob 'curhat' sama saya. Gimana awalnya dia buat klinik ini dan sebagainya. Saya tanya ke beliau kenapa nggak buka klinik di tempat yang lebih terbuka biar pasien makin banyak. dr Bob bilang dia salah satu dokter Obgyn yang dimusuhi banyak orang, terutama rekan sesama. dr Bob dianggap menjatuhkan pasaran tarif kesehatan, termasuk USG 4 Dimensi yang dia punya. Pernah dr Bob masang plang bagus buat kliniknya, tapi nggak lama setelah itu hilang atau di rusak orang.

Bahkan, pemerintah sendiri memusuhinya dengan cara mempersulit izin rumah sakit yang mau di bangunnya. Rumah sakit yang mau dibangun dr Bob nantinya khusus buat mereka yang nggak mampu. dr Bob hanya akan mematok tarif maksimal 500 ribu untuk melahirkan normal dan bedah caesar 11 juta apabila rumah sakit yang sedang diajukan ke pemerintah terealisasi. Tapi pemerintah menolaknya. Sialan ya pemerintah.

dr Bob sama temen-temennya saat ini lagi nyari strategi baru buat mengajukan perizinan lagi. Beliau bertekad rumah sakit untuk si miskin itu berdiri. Tanpa saya tanya, dr Bob menjelaskan ke saya kenapa biaya USG 4 Dimensi di kliniknya lebih murah dari rumah sakit lain. "Niat saya cuma menolong mereka yang nggak mampu USG 4 Dimensi di tempat lain. Alat yang saya pakai sama kok dengan alat yang dipakai rumah sakit besar lainnya" Subhannallah.

dr Bob, tidak hanya beliau yang ngomong sendiri ke saya, tetapi pasien lain yang sudah berobat sama dia lebih dari dua tahun cerita kalau dr Bob tidak pernah mematok tarif yang baku buat pasiennya. Misalnya, harusnya si pasien hanya punya uang satu juta dia akan menerimanya. Tapi kalau untuk bedah, dr Bob tidak melayani langsung di kliniknya, dr Bob akan mengoper pasien ke rumah sakit yang jadi mitranya. Kalau si pasien nggak punya uang untuk operasi, misalnya caesar minimal 5 juta, tapi pasien hanya punya uang 3 juta. Sisanya akan dibantu dr Bob. Tapi dengan syarat, dua jam sebelum operasi pasien harus bilang ke dr Bob kalau dia hanya bawa uang sekian. Dalam waktu dua jam dr Bob akan melepon teman-teman yang memiliki kepedulian sama seperti dia untuk membantu si pasien.

Apa dr Bob nggak takut tertipu? beliau bilang "Saya ikhlas". dr Bob nggak akan menyembunyikan apapun dari pasiennya. Kalau memang berbahaya dia akan katakan berbahaya begitu juga sebaliknya. dr Bob juga cerita persaingan di dunia kedokteran itu gila dan jahat. Beliau pernah diskors dari rumah sakit tempat dia praktek hanya karena menolak untuk mengoperasi orang. dr Bob berargumen si pasien ini bisa melahirkan dengan normal, tidak dengan operasi. "Saya dianggap menurunkan pendapatan rumah sakit," kata dokter Bob.

dr Bob: Saya katakan waktu itu sama pimpinan rumah sakit bahwa dengan tidak mengoperasi satu orang pendapatan rumah sakit tidak akan turun. nah, itulah bedanya saya sama mereka. Mereka komersil. dr di rumah sakit kebanyakan nggak mikir apa yang terbaik untuk pasiennya, dia akan mikir apa yang terbaik untuk dirinya dan rumah sakitnya. Coba kamu bayangin, enakan mana dengan waktu yang singkat, praktis tapi dapat duit banyak dengan nunggu lama tapi dapet duit dikit?

Saya: Ya singkat, praktis dan dapat duit banyak dong dok..

dr Bob: Nah dengan operasi kan beberapa menit selesai. udah sebentar dan dokter dapet duit banyak, kan?

Saya nggak bisa komentar apa-apa. Sebetulnya masih banyak yang saya obrolin sama dr Bob selama hampir satu jam kemarin. Soal situasi negara, soal pasien-pasiennya dan lain-lainnya. Yang lucu adalah, dia nggak suka saya menyingkat nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan SBY. "Dia presiden saya, kamu jangan main singkat-singkat aja dong," hihihi saya cuma ngikik doang.

Ya ampun, saya sampek lupa ngasih tau berapa tarifnya. Untuk USG 4 Dimensi print foto kena 155 ribu, kalau mau divedoi-in alias pakai CD 250, administrasi 5000. Paling kalau ada masalah sama janinnya ya dikasih obat atau vitamin tambahan. Coba bandingin di rumah sakit besar lainnya, paling murah mungkin 450 ribu untuk USG 4 Dimensinya. Dan satu lagi, nggak semua rumah sakit khusus Ibu dan Anak menyediakan fasilitas ini. Pemeriksaan paling sebentar sekitar 20-30 menit, sementara paling lama satu jam lebih, coba bandingin di RS lain yang meriksa nggak sampek 5 menit. Ih bikin keki

Setelah ngambil hasil USG dan ngobrol sama dr Bob, semua pikiran buruk saya tentang klinik ini hilang. Bahkan, sampai saya di rumah, apa yang diomongin dr Bob masih terngiang-ngiang di kepala saya.

Oia. dr Bob punya kembaran loh. dan waktu saya mau keluar dari klinik saya ketemu sama bapak-bapak mirip banget sama dia di meja resepsionis lantai dasar. "Bapak kok mirip ya sama dokter Bob?" "Saya kembarannya," kata si bapak itu. Saya cuma mlongo sebentar trus pulang.

Senin, 27 September 2010

Perlengkapan NewBorn Baby.. Buat yang Butuh, Boleh Ngintip ^^

Bener apa kata para senior -para wanita yang sudah beranak pinak- belanja perlengkapan bayi salah satu aktifitas menyenangkan selama masa kehamilan. Wiiiii, meski perut saya udah guede tapi saya semangaaaattt banget hunting dan beli perlengkapan bayi. Mulai dari Tanah Abang, Pasadena Depok sampe Carrefour ITC Depok. Dan itu saya lakukan dalam waktu sehari hehehehe..mumpung dapet libur dua hari..

Sekedar berbagi aja ya, sebelum saya blanja blinji, menclok sana menclok sini, saya terlebih dulu browsing apa aja yang mau dibeli, merek apa yang bagus, dan jangan lupa kualitas bahannya. Itu penting. Karena gini, saya kan niat punya anak lebih dari satu, jadi mending beli yang bagus sekalian, biar pas anak kedua nanti barang-barangnya masih bagus-bagus. emang sih, buat nyari barang yang kualitasnya bagus, harganya juga bagus. Hiks.

Nah, harga-harga yang saya dapet di internet atau list dari temen, saya jadikan patokan aja. Soalnya, harga perlengkapan bayi itu semakin naik, sementara list yang saya dapet mungkin harga setahun atau dua tahun lalu. Dan yang saya pegang adalah, perbandingan harga antara satu toko dengan toko yang lain juga bervariatif. Ada satu item barang di toko A ternyata jauh lebih murah di toko B. Kalau mau cari harga yang murah dengan kualitas bagus bisa aja, asal siap-siap aja ngedatengin satu toko ke toko yang lain. Itu menurut sayah loh.

Melist harga sebelum belanja itu penting karena pilihannya pasti banyak dan bikin bingung. Ya biar hemat waktu juga sih, jadi kita bisa liat-liat ke tempat lain. Yang saya beli juga yang bener-bener diperlukan. Untuk stroler, baby bouncer, box bayi sengaja nggak saya beli. Soalnya, kontrakan saya sempit dan nggak butuh-butuh banget sama barang-barang itu. Saya belajar juga dari ibu saya, barang-barang itu nggak bertahan lama dipakainya. Ujung-ujungnya ngejogrok di sudut ruangan rumah Ibu. Saya cuma akan beli barang-barang yang dibutuhkan doang.

Akhirnya pilihan saya ke Tanah Abang di Blok A Lantai Basement 1 Los C nomer 31, nama tokonya Sinar Rejeki. Tokonya deket sama lift paling ujung. Ada sih di lantai 3, tapi menurut ku nggak ada yang sekomplit di toko ini. Hampir semua merek ada, mulai yang branded sampai nonbranded ada. Merek-merek branded untuk baju, celana dan popok bisa dibeli yang merek-merek branded seperti Tokusen, Libby, Tatami, Boboho. Kualitas bahannya bagus, halus, adem dikulit dan Insya Allah nyaman buat kulit baby yang lembut dan halus. Tapi, untuk gendongan, perlak, selimut, tas saya nggak beli di toko ini karena harganya jauh lebih mahal dari harga di Toko Pasadena Depok. Untuk selimut, gendongan sama tas ada merek Baby Scots dan Baby Dialogue yang bagus. Yaaa tapi untuk hal-hal yang kayak gini, selera sih ya bu dan kebutuhan masing-masing orang kan beda. Boleh setuju atau enggak sama yang ku tulis ^^v.

Buat bumil-bumil yang belum beli perlengkapan baby, Nih, saya kasih listnya, kali aja membantu. Ini barang yang saya beli.

1. Selusin baju tanpa lengan merek Luvita, warna-warni tapi polos, 78.000

2. Selusin baju tangan pendek merek Tokusen, bercorak, 120.000

3. Selusin baju tangan panjang merek PyoPyo dan Papanda, 100.000 (setengah lusin merek Papanda dan setengah Pyopyo)

4. Setengah lusin celana pendek merek Boboho, waran putih, 32.000

5. Setengah lusin celana pendek merek Boboho, warna warni polos, 34.000

6. Celana Kacamata atau celana O-O merek Boboho, warna warni polos, 54.000

7. Celana panjang merek Tokusen, 140.000

8. Setengah lusin bedongan merek Wiwin, ukurannya lupa tapi yang paling gede, 55.000

9. Setengah lusin bedongan merek Daviera, ukurannya lupa tapi yang paling gede, 82.000

10.Setengah lusin sarung tangan dan kaki merek Libby, warna warni polos, 39.000

11. Satu Selimut merek Lovely Angel, 26.000

12. Satu set sarung bantal dan dua guling, 14.000

13. Setengah lusin washlap, warna putih, 18.000 (ada yang bentuknya jari tapi agak mahal, beda 2-3ribu)

14. Termometer Merek Citizen, 42.000. Merek Pigeon harganya 61.000

15. Satu tempat bedak multifungsi, ada tempat bedaknya dua buah, atasnya ada tempat cottonbuds sama kapas, 19.000

16. Grooming Set Kiddy, 38.000 (isinya gunting, gunting kuku bayi, sisir bayi sama sikat lidah untuk bayi=kalau beli misah-misah jatohnya mahaaaal).

17. Satu gurita Ibu merek Mama Slim, 38.000 ada juga yang harganya 28.000. Tinggal pilih sesuai selera.

18. Breast Pas merek Pigeon isi 10, 19.500

19. Dua lusin popok merek Boboho, 88.000 perlusinnya 44.000

20. Satu jaket bayi, 42.000 (jaketnya bisa dibolak balik makainya)

21. Celana pendek yang ujungnya segi 4 merek Tokusen, 120.000

Di Toko Pasadena Depok

1. Tas merek Baby Dialogue 81.000 (untuk merek Baby Scots 103.000)

2. Handuk Baby 29.000

3. Perlak sedang, 29.000

4. Satu selimut yang ada bungkusan kepalanya, Merek Baby Scots (itu looh yang buat dipakai begitu keluar dari Klinik bersalin atau rumah sakit), 78.000

5. Mamipoko Newborn Baby isi 52 deh kalau gak salah, soalnya ayahnya Kaka yang ngebeliin waktu diskon di Giant, 71.000 (ada yang menyarankan barang ini dibeli untuk dipakai hanya waktu malam hari, biar baby-nya nggak bangun terus karena pipis mulu)

Untuk perlengkapan kosmetik baby seperti shampo, sabun mandi, lotion, baby oil, minyak telon, bedak, cottonbuds, kapas bisa dibeli di swalayan. Merek, harga dan ukuran monggo disesuaikan dengan kebutuhan dan selera. Untuk keperluan P3K seperti kain kassa, alkohol 70 persen, bethadine dan peralatan medis lainnya bisa dibeli di apotik terdekat.

Ada beberapa item yang sengaja saya nggak beli dulu seperti tempat makan, dot dan pompa asi karena saya baru akan membelinya saat membutuhkan nanti. Ada juga yang udah dikasih sama Ibu, lungsurannya si Zahra kayak Gurita baby, beberapa potong atasan baju, celana, selimut, bantal, dua guling, kasur dan sebagainya.

Segitu dulu ya, mungkin ada yang mau kasih referensi toko perlengkapan baby yang jauh lebih murah, atau para ibu-ibu yang mau kasih tips boleh kasih komen di bawah yaaa.. oiya, boleh juga tengok-tengok situs www.pabrikbajubayi.com untuk referensi juga, tapi doi adanya di Solo.

Inget, beli yang kira-kira penting-penting sajah..

Selasa, 03 Agustus 2010

Perempuan Hamil Bukan Orang Sakit

Lagi hamil ya, awas loh jangan makan nanas, terutama nanas muda, bisa rontok tu baby..

Kalau lagi hamil jangan makan gorengan, jangan makan mie instan, jangan minum air es nanti bayinya gede di dalem dan menciut pas keluar.

Nih, pakai peniti dan bangle ini kemana-mana, darah orang hamil kan wangi buat makhluk halus, terutama di penciuman kuntil anak.

Eee ulpeee, banyakim minum air kelapa hijau yee pas udah 7 bulan, ntar anaknya putih deh, sekarang masih 5 bulan banyakin minum air susu kedelai dan air rebusan kacang ijo biar rambut anak lo lebat..

Jangan makan pempek ada cukanya, jangan makan yang asem-asem ntar sakit perut, jangan makan pedes-pedes nanti anaknya matanya buta..

Waaaa.. Ccckkk... Cccckkk... Sumpah, suwer tekewer kewer saya cuma geleng-geleng kepala kalau ada yang melontarkan kata-kata di atas. Kadang malah ngakak. Bukannya menyepelekan ya, tapi sepertinya orang yang ngomong itu lebih mengedepankan mitosnya ketimbang manfaat yang sesungguhnya.

Kalau saya positif thingking sajah, karena orang hamil itu bukan orang sakit yang nggak boleh makan ini nggak boleh makan itu. Kalau begini nanti begitu. Sebetulnya, yang musti dijaga saat hamil adalah kesehatan keduanya biar si ibu nggak minum obat saat hamil. Makan juga soook apa aja dilahap. Asal satu, jangan berlebihan.

Waktu trimester pertama saya makan nanas kok dua potong di beberapa resepsi pernikahan teman. Dimakan begitu aja atau udah tercampur sama asinan yang udah disuguhin. Alhamdulillah babyku nggak rontok. Karena makannya bener-bener sesekali. malah ibu saya makan nanas muda hampir tiap hari pas hamil saya dulu, ngidam katanya. Buktinya, saya ada, sedang menulis tulisan ini dan lagi hamil pula.

Nggak boleh makan gorengan. Boleh ibu-ibu, kalau khawatir minyak yang dipakai abang-abang tukang gorengan udah dipakai berkali-kali, ya nggoreng sendiri aja. Beres. Kalau udah ngebet mau makan gorengan di jalan. Makan aja, asal nggak keseringan.

Jangan minum air es nanti anaknya kegendutan. Air putih dingin itu nggak mengandung kalori sodara-sodara, jadi mana bisa bikin bayi gendut. Yang nggak boleh keseringan ya es yang manis-manis itu misalnya es kopyor, es-es manis lainnya. Itu lah kenapa dokter suka nyuruh bumil-bumil yang berat janinnya kurang dengan makan es krim yang banyak biar babynya beratnya naik. Kalau air putih dingin sih boleh.

Banyakin minum air kelapa hijau pas usia kehamilan 7 bulan ke atas biar anaknya putih. Wkkakaaakak kejengkang saya denger kata-kata ini. Yang bener, justru nggak boleh banyak-banyak karena kadar garamnya tinggi. Yang ada si bumil bengkak-bengkak bodynya karena kelabihan garam. Air kelapa hijau memang bagus untuk kesehatan, pengganti ion tubuh yang hilang dan menjaga agar orang tetap vit. Mana ada kaitannya sama bayi jadi putih kulitnya. Kalau begitu, banyak dong orang berkulit hitam dan coklat kayak saya ini memburu air kelapa hijau. Saudara saya ada yang selama hamil nggak minum air kelapa hijau, tapi anaknya bersih dan putih. Karena memang kedua orang tuanya berkulit putih. Sebetulnya, bayi bersih atau enggak tergantung asupan gizi yang dimakan ibu dan babynya.

Soal air susu kedelai dan kacang ijo. Itu sama sekali nggak ada kaitannya sama rambut lebat atau enggak. Kalau untuk kandungan gizinya baik untuk keduanya itu bener. Soal pedes-pedes yang katanya bisa bikin mata baby buta. Yaa oloooh dapet dari mana sih teorinya, yang ada itu mencret-mencret bumilnya. Ibu saya kerap makan pedes waktu hamil anak-anaknya. Alhamdulillah nggak satupun anaknya yang buta.

Yang lucu dan paling nggak masuk akal soal bangle dan peniti. Saya dikasih bangle sama peniti sama saudara. Biar nggak menyinggung dia, saya terima bangle dan peniti itu. Biar dia seneng deh. Sampek rumah, peniti berikut bangle saya tarok aja di atas kulkas. Dua hari kemudian, banglenya busuk. Laaaah, gimana mau ngejaga kita dari makhluk halus kalau baru dua hari aja udah busuk gini. Yang ada tu mbak kunti cekikikan di atas pohon sirsak di depan rumah kontrakan tetangga depan saya. Menurut saya, tindakan kayak gitu jauh dari Islami, kita saben hari berdoa aja sama Allah dijauhkan dari godaan syetan, jin dan makhluk halus lainnya. Masa sih kekuatan dan perlindungan Allah kalah sama bangle dan peniti. Qiqqiqqiqiqi.. Silahkan ketawa sepuasnya.

Yowis, gini aja bumil, makan dan minum lah apa yang kau suka. Asal jangan berlebihan. Bukan takut anaknya jadi ileran ya kalau nggak dituruti. Tapi berfikirlah bahwa hamil itu bukan penyakit dan orang hamil itu bukan orang sakit. Baik bumil, bapak bumil, dan semua orang wajib menjaga kesehatan. Banyak-banyakin baca seputar kehamilan biar nggak gampang dibegoin orang. Gitu aja ya.

Senin, 19 Juli 2010

Tak Berkancut di Kantor Sepanjang Hari

Ada yang menurut saya lucu deh hari ini, soalnya sepanjang saya kerja saya nggak pakai CD alias kancut alias underwear.. eit eit eit tenang saya nggak bermaksud porno di sini. Ini darurat sodara-sodara!!!!.

Usia kehamilan saya kan udah diujung lima bulan nih, nah karena kantung rahim makin besar maka kantung kemih saya tertekan. akibatnya adalah, ketika saya bersin dan ketawa terbahak-bahak pasti deh ngompol di celana. Ya nggak kayak ngompolnya anak kecil sih, cuma dikit.. tapi tetep ya booo, najis kalau buat solat. qiqiqiiqi..

Contohnya nih, saya lagi mau pipis di toilet, sambil nunggu antrian di luar pintu, saya ngobrol dulu saya temen saya yang kebetulan sama-sama Bumil. Eh ditengah ngobral ngobrol itu saya tiba-tiba bersin -kebetulan obrolan kali itu tentang kenapa Bumil kerap bersin ngak jelas, dia bilang karena kekebalan tubuh Bumil berkurang saat hamil-.

Nah, saya kan kalau udah bersin panjang dan sangat menekan perut. Hasilnya ya saya-pun ngompol, saya langsung masuk ke toilet dan yaaaaa.. pas liat ke CD langsung melempem deh, pucet deh muka saya.. waduuuh saya pakai celana apa nanti, pikir saya dalem ati sambil nyalah-nyalahin diri sendiri kenapa nggak bawa kancut cadangan. Dodol deh pokoknya.

Urusan dodol marodol, mungkin saya nomer satu kali ya dan ini dodol marodol saya yang entah ke berapa ratus kalinya. Maka jadilah sepanjang hari itu saya nggak berkancut ria qiqiiqqi.. saben solat, dan untungnya ada sarung di mushola kecil kantor ada sarung. Thanks to yang punya sarung. semoga engkau diberi pahala dan rejeki yang berlipat-lipat dari Allah.. Amien..

Untungnya juga baju saya menutupi pantat, jadi nggak keliatan deh saya pakai underwear apa enggak.

Selasa, 13 Juli 2010

Me dan My Little Family

Me?

Saya adalah Maria Ulfa Eleven Safa, dilahirkan di Kebumen kira-kira 26 tahun, saat ini masih menjadi Reporter di salah satu media online di Indonesia. Menikah 9 Agustus 2009 lalu dan saat ini sedang mengandung 4,5 bulan (^_^). Oia, nama saya kan kepanjangan tuh, kalian bisa panggil saya Maul atau Ulfa saja ya. Saya anak pertama dari delapan bersaudara. Anak pertama, paling diandalkan dan paling berat pastinya tanggung jawabnya untuk keluarga. Tidak peduli saya sudah menikah atau belum, tanggung jawab itu melekat dan saya gendong kemana-mana hehehe. Tanggung jawab saya sejauh ini, semampu saya, memberikan uang belanja sedikit untuk ibu tercinta, sedikit uang kos untuk adik saya di Purwokerto sana dan kadang uang jajan untuk adik-adik saya (untuk yang satu ini teramat sangat jarang, maklum berapa sih gaji Reporter di tempat saya kerja hehehheh).

Meski bergaji kecil, saya happyyyy sekali dengan pekerjaan ini. Karena, pekerjaan saya ini membawa saya ke tempat-tempat yang orang biasa jarang-jarang mengunjungi. Misalnya, Istana Presiden, Istana Wakil Presiden, sejumlah Lembaga Tinggi Negara dan Kementrian di Indonesia. Yang terpenting adalah, entah kenapa saya suka banget kalau saya tahu behind the story sebuah peristiwa. Istilah jurnalistiknya, yang "off the record" alias tidak untuk dipublishkan. Profesi Reporter bagi saya sangat mulia dan memiliki prestise yang tinggi. Gimana nggak, seorang Reporter bisa pergi kemana saja yang dia mau -sesuai dengan penugasan dong ya pastinya, diajak pergi sama pejabat, presiden, wakil presiden kemana saja.. Zaman Wapresnya masih Jusuf Kalla saya sering ngintilin kemana dia pergi. Ke Bandung, Palembang, Makassar, keliling Jakarta, Tangerang. Kepentingannya apa? ya liputan.. apalagi :)

Sekarang, saat JK sudah lengser, posisi saya bergeser ke Istana Presiden. Karena posisinya cuma ngeback-up, paling-paling saya ke Istana cuma dua kali seminggu. Itu kalau yang jaga di pos itu lagi piket malem atau cuti. Selebihnya saya menempati pos utama saya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI). Berhubung lagi hamil, saya nggak pernah disuruh untuk meliput ke luar kota lagi. Kalaupun ada acara ke luar kota, saya ogah ngambilnya karena saya lebih memilih liputan di Jakarta atau di rumah saja -kalau kebetulan perjalanan ke luar kotanya weekend-.

My Little Fam

Sudah saya bilang kan di atas kalau saya sudah menikah. Yup. 9 Agustus 2009 lalu saya resmi dipersunting Raden Mas Bagus Suseno alis Seno. Nama panjang suami saya sih cukup Suseno saja, karena kependekan ya saya tambah-tambahin heheheh.. Seno bekerja sebagai teknisi di sebuah PT yang bergerak di bidang Fotografi dan peralatan medis. Nggak usah sebut merek lah ya boo, nggak enak.

Dimata saya, dia sosok suami yang mendekati sempurna. Baik, pengertian, bertanggungjawab, setia dan cinta keluarga. Tipe-tipe family man gitu lah. Tapi, nggak ada manusia yang sempurna kan, dia pun banyak kurangnya. Ya 11-12 sama saya. Huuu apalagi saya, banyaaaak sekali kurangnya. Saya sayang sekali sama Ayahnya Kaka itu. Cukup ya tentang dia, nanti kalau saya kebanyakan muji dia, bisa terbang dia ke langit ke tujuh, ketemu bidadari cakep trus ninggalin saya deh hehehhe..

Time to speak Kaka, Kaka ini nama janin di dalam rahim saya, buah cinta saya dan Seno pastinya. Nama Kaka sengaja saya pakai karena sifatnya general. Kalau dia laki-laki bisa tetap di pakai sampai dia besar nanti, begitu pun sebaliknya. Dan satu lagi, kami berdua berniat memiliki dua anak saja. waaaa WNI yang baik ya kita :D

Alhamdulillah, trimester pertama mengandung Kaka, saya nggak mengalami kendala yang sulit dan menyebalkan layaknya Bumil-bumil lain. Ya muntah-muntah, ya pusing dan nggak mau makan sama sekali. Boleh dibilang, hamil Kaka di trimester pertama itu menyenangkan, yah nggak nyusahin lah ya. Buktinya, saya jarang banget ijin dari kantor. Bukannya saya sombong ya, enggak. Saya cuma lagi bersyukur kalau kehamilan pada trimester pertama itu nggak nyusahin.. Paling cuma gangguan psikologis aja sih, gampang tersinggung, stres dan gampang emosi hihihihi

Sekarang sudah memasuki trimester kedua. sudah satu setengah bulan saya lewatin.. alhamdulillah nggak ada kendala yang berarti. Paling jadi suka pipis terus, bersin-bersin aja bisa ngompol di celana dalem, kaki gampang pegel dan gangguan emosional sudah sedikit berkurang. Tiga hal yang saya minta sama Allah, kesehatan, kelancaran dalam persalinan dan uang yang cukup untuk kami bertiga. Mami, Ayah dan Kaka :D