
Memang benar apa kata para pendahulu, bahwa proses kehamilan, melahirkan dan bahkan saat membesarkan anak Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Kita, manusia, akan merasa begitu kecil dan nggak punya daya apa-apa dibawah genggaman-Nya. Dan lewat kehamilan, menunjukkan satu bukti kecil bahwa Allah Maha Kuasa..
Tadi pagi, sebuah keajaiban kasih unjuk ke saya sama Seno. Sejak semalam, kami udah berdiskusi panjang lebar mengenai beberapa rumah sakit yang akan dipilih untuk sesar. Nah, dipilihlah RS Budi Kemuliaan. Secara jarak, jelas sangat jauh dari rumah, tapi kalau dipikir-pikir, di RS Budi Kemuliaan selain biaya yang sangat terjangkau dengan fasilitas komplit dan pelayanan yang Insya Allah memuaskan akan kita dapatkan.
Misal gini deh, untuk perbandingannya, di RS As-Syifa Medical Center deket rumah aja untuk kelas 2 saya bisa ngabisin sekitar 7-8 juta. Nah di RS Budi Kemuliaan, dengan budget yang sama saya bisa dapat kelas 1. Dan yang penting bisa ditungguin 24 jam sama anggota keluarga. Nah, lagian saya dan Seno juga sreg-nya di RS ini. Ya udah deh, sepakatlah kita pagi-pagi ke RS Budi Kemuliaan buat daftar.
Selepas salat subuh, kita mandi dan sarapan ekspres. Saya minum susu, Seno ngopi dan sedikit mengunyah roti tawar. Jam 7.30 pagi kita sampai dan langsung naik ke lantai 2. Setelah daftar pasien berjenjang atau pasien dengan bidan, kita disuruh nunggu sekitar 10 menit. Nggak lama kita dipanggil dan dikasih penjelasan sama petugas registrasi. Petugas yang umurnya kira-kira 50 tahunan itu menjelaskan ke kita, bahwa kelas berjenjang diprioritaskan untuk mereka yang kurang mampu. Masih penjelasan wanita paruh baya itu, katanya melihat riwayat saya yang pernah ditangani dokter di RS Hermina dan melihat faktor sosial juga, kita disarankan sebaiknya mengambil kelas dokter pribadi alias dokter spesialis.
Beliau ini juga menjelaskan bahwa kemudahan yang didapat pasien dokter pribadi lebih banyak, memang ada uang ada mutu. Misalnya gini, katakanlah saya harus disesar ditengah persalinan normal. Kalau pasien berjenjang itu akan melewati prosedur yang cukup panjang dan memakan waktu, sementara kondisi saya yang mungkin saat itu berkejaran dengan waktu jadi menghambat.
Karena kalau pasien berjenjang jelas nggak boleh memilih dokter spesialis yang diinginkan. Prosedurnya adalah riwayat kesehatan pasien harus dilaporkan dulu ke dokter spesialis yang jaga, terus ke dokter umum, dan beberapa tindakan lain yang memakan waktu. Sementara kalau pasien dokter pribadi si pasien langsung ditangani dokter pribadi itu tanpa melewati prosedur yang rumit. Oke, penjelasannya masuk akal juga. Kita nggak mikir panjang lagi karena waktu udah mepet, toh kalau memang mau balik ke jenis pasien berjenjang pasti boleh.
Yang dibenak saya waktu itu adalah gimana saya bisa diperiksa dokter saat ini juga, di USG dan tahu kondisi Kenzie. Titik! Persoalan pindah jenis pasien itu belakangan. Kita bertiga, saya, Seno dan petugas registrasi tadi naik ke lantai 3, tempat pendaftaran pasien dokter pribadi. Petugas tadi bicara sama petugas registrasi di lantai 3 dan kita pun disuruh nunggu.
Nggak sampai 10 menit, saya ditensi dan ditimbang. Disuruh nunggu untuk USG dan baru setelah itu ketemu dokternya. Saya dapet dokter Dwiarti Soebarkat SpOG. Saya nunggu sekitar 30 menit di depan ruang USG. Nama saya pun dipanggil dan seperti USG pada umumnya, saya disuruh berbaring dan perut saya diolesi gel. Disinilah keajaiban itu Allah tunjukkan. Tidak ada masalah dengan kandungan saya, meski belum masuk panggul, letak Kenzie sudah di bawah dan tidak sungsang. Kabar menggembirakan itu saja sudah membuat hati saya dan Seno melambung.
Saat saya tanya apa ada lilitan tali pusar, petugas itu belum bisa memastikan karena teknologi USG 2 Dimensi nggak bisa sedetail itu, dia hanya melihat ada plasenta disekitar lehernya, tapi belum pasti apakah itu hanya menempel atau benar-benar terlilit. Sepertinya, untuk memastikan ini saya tunggu dokter Bob pulang haji deh. Tanggal 22 atau 23 saya ke kliniknya. Kan deket dari kantor saya.
USG pun beres, antri lagi sekitar 10 menitan, dan ketemulah saya dengan dr Dwiarti, kalau nggak salah dokter ini dokter yang sama kayak dokternya sepupu gue Nunik deh. Pertama kali ketemu, saya pikir orangnya masih muda, nggak taunya udah berumur. Boleh dibilang senior lah beliau. Secara general, orangnya sangat komunikatif dan nyaman diajak bicara. Dan yang bikin saya heran, waktu perut saya dicek sama dia, pengecekan yang sama seperti yang dilakukan bu Bidan Eka kalau saya periksa, kok perut saya lentur gitu ya, dan beliau dengan mudah meraba kepala, pantat dan punggung Kenzie. Berbeda jauh saat saya ditangani bidan Eka. Perut saya keras di bagian bawah dan hanya teraba bagian atasnya aja. Mungkin bagian keras di atas perut saya dianggap kepala, makanya beliau bilang Kenzie sungsang.
Apa iya janin bisa milih tenaga medis yang akan menanganinya? Wallahualam kan...
Setelah tau kondisi Kenzie, legaaaaa banget perasan saya dan Seno.. Beratnya udah 2,9 kilo dan dua minggu lagi saya disarankan cardio topography atau CTG untuk rekam jantung Kenzie. Mudah-mudahan Allah kembali memberikan kemurahan sama saya untuk melahirkan Kenzie dengan normal dan lancar. Maksudnya spontan tanpa tindakan gitu. Dengan kejadian hari ini, saya belajar bahwa kita sebagai manusia itu nggak ada apa-apanya deh dibawah genggaman-Nya.. Subhanallah deh, saya nggak berenti untuk bersyukur untuk itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar