Minggu, 28 November 2010

Last Day at Okezone.com


Minggu, 28 November 2010, adalah hari terakhir saya di kantor ini. Sedikit sedih sih karena besok dan besoknya lagi saya sudah nggak kerja untuk media yang saya cintai ini.-Dicintai secara pekerjaan tapi tidak dengan manajemen bapuk-. Well, meski saat cuti saya masih terdaftar sebagai karyawan kontrak di sini, tapi hitungan saya sudah tidak lagi, mulai hari ini.

Berikut saya jabarin bagaimana hari terakhir saya di kantor yang kalau weekend ini panas bak neraka karena AC mati. hihihi..

Jam 6.30, lokasi di kontrakan

Saya bangun, kesiangan sih, dan nggak salat subuh pula. Saya mandi, bikin susu untuk diri sendiri dan kopi untuk suami. Diselingi ngejemur baju, hasil kerja di kamar mandi berkolaborasi dengan mesin cuci kemarin. Ngeringin rambut dan jam 7.30 berangkat ke Stasiun Depok Baru. Nggak sampe 30 menit kereta ke Jakarta dateng. Kali ini, nggak naik AC Ekonomi atau Ekspres, maklum ini kan weekend jadi penumpang juga nggak banyak. Alhamdulillah dapat tempat duduk. 45 menit kemudian sampailah saya di kantor.

Jam 8.45 WIB, lokasi di Stasiun Gindangdia

Karena belum sarapan, saya beli nasi uduk di bawah rel kereta dan akan memakannya setibanya di kantor. Perjalanan dari Bareta (Bawah rel kereta) betul-betul saya nikmati. dan jam 9 sampailah saya di kantor.

Jam 09.00 WIB, lokasi di Kantor : Seperti yang sudah diduga sebelumnya, AC kantor mati saat weekend. Menyebalkan ya?. Hawa panas dan pengap, bau rokok dan debu menyambut saya. Dua orang reporter piket malam terlihat kusut di mejanya masing-masing, mungkin mereka belum tidur sejak semalam. Saya menyapa mereka dan sedikit membahas kesalahan berita yang saya tulis atas nama Ferdinan kemarin.

Sambil makan di lobi kantor yang dingin -heran, hanya AC di ruangan ini yang nyala- saya, Ferdinan dan Misbahol Munir ngobrol soal manajemen kantor. Misbahol, new comer ini, tanya-tanya soal kontrak dan lainnya, seperti salary reporter yang memprihatinkan sampai kenaikan status karyawan kontrak. Saya dan Ferdinan cuma bisa ketawa. Kami berdua cuma berpesan sama si new comer ini untuk tidak berharap banyak sama kantor ini.

Jam 9.30 WIB, obrolan selesai, mereka berdua pulang dan seorang asred yang baru saja menikah minggu lalu datang. Di redaksi news, hari ini cuma ada saya, Kang Dede si penganten baru dan Korlip. Time to work!

Dua jam berlalu, tapi mas Korlip belum juga datang, si manten baru nyeletuk kalau mas Korlip emang jagonya ngaret. "Padahal sebagai seorang Korlip dia harus datang lebih pagi, apalagi kalau hari minggu gini, kan kasihan yang piket," kata manten baru. Saya, no comment deh! Nanti kalau orangnya datang ya cuekin aja. Apapun yang terjadi dengan kantor ini hari ini beserta isinya, saya udah masa bodo.

Jam 11 lewat; Time to pesan makanan. Delivery Hokben enak kali ya, saya bersama seorang asred dari kanal lifestyle dan seorang reporter otomotif pesan Hokben. Pesanan datang jam 12.30 WIB. Langsung saya makan heheheh.. lapar booo..

Setelah makan siang, nggak ada acara dan peristiwa yang spesial. Ritmenya sangat flat, saking sepinya, saya masih bisa facebookan dan YM-n sama beberapa teman.

Oia, untuk sekedar mengenang dikemudian hari. Hari ini saya ditemani Korlip, Kang Dede, Susi (kanal news). Dari kanal sport ada Azwar dan seorang reporter yang nggak saya kenal namanya, anak baru soalnya. Di kanal lifestyle ada mba Nisa, di Kanal Ekonomi ada Widi dan seorang reporter baru. Di Kanal International ada seorang reporter baru dan Pasha dari kanal Otomotif. The only man redaktur pelaksana, Bang Fetra. Obe-nya Mas Wawan. Nongol pas jam makan siang doang dan sisanya ngabur entah kemana heheheh.

1 jam menjelang pulang, saya sempetin nulis di blog ini dan ngetik beberapa berita daerah. Usai azan maghrib dan salat maghrib, saya sama Susi mau pulang, kebetulan rumah kita searah looh..

Akhirnya, saya cuma bisa mengucakan selamat tinggal pekerjaan yang sangat menyenangkan, selamat tinggal manajemen kantor yang buruk dan sampai bertemu lagi temen-temen reporter di lapangan, di lain kesempatan pastinya.. someday, saya akan merindukan pekerjaan ini.

Hunting Info dan Beli Macam-Macam Clothdiapers


Dua minggu lagi Kenzi lahir -mudah-mudahan sesuai dengan prediksi ya- atau lebih cepat seminggu nggak apa-apa deh, pas usia Kenzie 39 minggu, yang penting posisinya aman.

Nah sebelum Kenzie lahir, saya lagi seneng hunting clothdiapers atau Clodi. Bahasa mudahnya, popok yang bisa dicuci dan katanya lebih hemat. Beside, si Clodi ini juga ramah lingkungan dan bisa menyelamatkan bumi. Go Green gitu deh. Untuk awalnya, mungkin agak berat ya karena harga Clodi yang bagus itu nggak murah. Paling murah diatas 70 ribu. Paling mahal 300 ribuan. Saya baru saja beli 3 Clodi dengan harga diskon, karena teman yang jual, kebetulan barang-barangnya lagi disale.

Mulanya, saya nggak paham sih gimana cara pakainya, dan takut juga ya beli, mengingat harganya yang lumayan menguras dompet. So, browsinglah saya dari situs penjual Clodi yang satu ke penjual yang lain. Dikit-dikit paham dan Insya Allah nggak nyesel belinya, demi menghemat sekian juta -setidaknya sampai dua tahun ke depan-.

Selang sehari setelah pesan via online, trio Clodi itu coolababy bamboo warna purple 90 ribu, Coolababy warna hijau dan orange (dua-duanya harganya 85 ribu) sampai ke tangan saya. Langsung deh saya cuci pakai detergen *detergennya sedikit aja ya* dan keringin pakai mesin cuci. Katanya, untuk menguji daya serap si Clodi, kita harus nyuci Clodi itu 2 atau 3 kali. Karena kalau enggak dicuci dulu, pipis bayinya bakal bleber kemana-mana. Jadi, saya ikuti aja deh petunjuknya. Toh, nggak ada ruginya nyuci doang. Oia, inget jangan pakai pewangi karena pewangi akan mengurangi daya serap Clodi terhadap pipis.

Asumsinya mungkin begini, katakanlah kita beli pampers atau popok sekali pakai sebulan 300 ribu maka dikali 12 bulan aja kita udah abis 3,6 juta setahunnya. 3,6 juta x 2 tahun = 7,2 juta. Nah, informasi yang saya terima dari situs-situs Clodi itu, paling nggak kita butuh sekitar 10 Clodi. 1 Clodi katakanlah harganya 100 ribu ya, berarti kalau dikali 10 kan sekitar 1 juta. See, berapa juta yang bisa kita hemat. Apalagi, setelah cuti melahirkan berakhir, saya akan jadi Full Time Mom saja. Pastinya hanya mengandalkan gaji suami doang.

Setelah browsing sana-sani, saya menemukan beberapa situs yang Insya Allah saya akan belanja online di tempat itu. Nah, ini situsnya, www.clothdiapersmurah.com dan butikclodi.com. Dari situs-situs yang saya temukan, dua alamat ini yang menurut saya punya koleksi yang banyak dan harganya juga terjangkau. Beda 5 ribu atau 10 ribu kan lumayan tho.. *dasar emak-emak. Biar nggak berat, saya belinya nyicil. Bulan ini udah beli 3 dan bulan depannya lagi beli lagi.

Meskipun bayi baru lahir udah bisa dipakein Clodi, tapi saya memilih untuk memakainya nanti setelah Kenzie berusia 2 atau 3 bulan. Saat dimana pup dan pipisnya sudah teratur. Kabarnya kan kalau baru lahir bayi itu pup dan pipis terus. Volumenya juga sedikit-sedikit dan harus segera diganti. Kalau nggak kulit baby yang sensitif itu bakal merah-merah. Well, untuk persediaan popok kain yang jadul sih saya punya 3 lusin. 2 lusin baru dan 1 lusin lungsuran dari adik saya yang bontot, Zahra.

So, ibu-ibu yang lain gimana? mau pakai Clodi juga nggak? pakai ya.. demi penghematan dan kecintaan kita untuk bumi..

Merek-merek yang direkomendasikan. Saya kasih menurut range kualitas barang ya.. hmmm ada harga ada mutu.

Romparooz (harga sekitar 275 sampai 295 ribu), Grovia (harga sekitar 275 ribu), Bumwear Cloth Diaper (harga 250 ribu), Grow with Green alias GG (harga sekitar 77 ribu), Cluebebe Pocket Diaper 85 sampai 110 ribu), Ananndapers 9harga sekitar 70 ribu). Masih banyak merek lokal lainnya yang jauh lebih murah. Sekali lagi, ada harga ada mutu, silahkan pilih sesuai dengan budget.

Kamis, 25 November 2010

You Know Dok, Pasien Sekarang Pinter-Pinter Tau!

Base on statusku today, tau nggak itu karena apa? aku dapet dokter baru di RS Budi Kemuliaan Jakarta, dapet baru karena baru daftar juga di sana. Secara general sih enak ya orangnya, udah senior pula, taksiran umurnya sih sekitar 50 tahunan.... Tapi booo, sombong deh dokter itu.. dia tanya dulu prediksi lahiran dari dokter pertama tanggal berapa? trus aku jawab tanggal 14 desember.

Doi bilang, prediksi pertama itu yang paling akurat. Nah, mintalah dia hasil print USG yang awal banget. aku bilang, nggak bawa bu, saya simpan di al-quran tapi saya ingat kok tanggal berapa. You knowww dia jawab apa? "Ibu, biarpun ibu pegangannya internet, tapi kalau nggak pernah kuliah kedokteran nggak akan ngerti deh soal beginian" Aseeeem! sombongnya orang ini.. dia kira informasi yang beredar di internet, buku dan majalah yang ditulis ahli atau dokter SpOG dia anggep apa? SAMPAH! ih menyebalkan... dalem hati, udah pertanyaan sama jawaban nggak nyambung. ih dia nanya prediksi lahiran kenapa bawa-bawa pengetahuan soal kehamilan yang aku baca di internet coba.. maklum udah uzur..

Dan konyolnya, setidaknya buat aku, dia nyaranin aku untuk CTG di minggu ke 38. Hallow dia itu nyaranin beneran apa cuma buat proyek doang sih. Emang dia pikir aku nggak tau CTG itu apa dan kapan sebaiknya dilakukan. CTG baru dilakukan pada Bumil dengan Kehamilan dengan komplikasi (darah tinggi, kencing manis, tiroid, penyakit infeksi kronis, Kehamilan dengan berat badan janin rendah (Intra Uterine Growth Retriction), Oligohidramnion (air ketuban sedikit sekali) dan Polihidramnion (air ketuban berlebih). sementara eike, nggak mengalami satu pun dari hal ini. Untuk janin eike, nggak ada masalah tuh. Denyut jantung dan gerakan semua oke.

Ih ketauan banget ngeproyekin pasien. Jadi kepikiran, kalau aku lahiran ditangan dia, jangan-jangan dia nggak sabar trus cari-cari alasan untuk tindakan ini itu dan berujung ke caesar. *ih ngebayanginny aja udah ngeri*.

Selasa, 23 November 2010

Jangan Tanyakan 2 Hal Ini Pada Bumil!

Jangan pernah tanyakan dua pertanyaan ini kepada Ibu Hamil (Bumil) yang menunggu persalinan.

Nggak usah jauh-jauh, saya saja kerap dihujani dua pertanyaan ini. Memang nggak ada yang salah dengan pertanyaan ini tapi kalau terus-terusan dihujani pertanyaan kayak gini, bete juga saya.. Bagi yang belum tau, nih saya kasih bocorannya ya..

1. Kok Belum Cuti Sih?

Kalau pertanyaanya sekali dua kali sih boleh ya, tapi bagaimana kalau pertanyaan itu dilontarkan setiap hari, dengan kadang yang nanya itu-itu saja. Bosen kan?? atau kalimatnya begini, aduuuh pulang gih, nanti brojol di jalan loh? Udah gendut gini di rumah aja deh, istirahat! saya sih sebel kalau ditanya hal ini. Please ya, orang hamil itu bukan orang sakit yang harus diem aja di rumah. Justru menjelang bersalin gini, dia harus banyak beraktifitas.

2. Kok Belum Lahir Juga?
Nah, pernah kan denger orang nanya begini? hayoo ngaku deh. Saya-dengan prediksi melahirkan 3 minggu lagi- aja udah dihujani pertanyaan kek begini. Emang sih perut saya ini gede banget, udah mau meledak kali ya. Mungkin orang-orang juga udah nggak tega liat saya masih mondar-mandir Depok-Jakarta dengan naik sepeda motor (dibonceng sih hehehhe). Tapi jujur deh saya sebel kalau ditanyain ini. Toh kalau udah lahir juga nanti kalian pada tau semua. Yang paling nggak enak ya denger kalimat ini "Kok belum lahir juga sih, si anu udah lahiran looh padahal"..

Eh hallooo... meneketehe ini bayi mau lahir kapan. Dokter atau bidan kan manusia yang prediksinya juga bisa salah. Suka-suka Tuhan kenapa sih.. kan dia yang nentuain segalanya. Situ bawel amat. *umpat saya dalem hati*.

Senin, 22 November 2010

Sorry, I'm Out!

Saya bergabung di perusahaan media ini agustus 2008. Sejak awal sampai sekarang memang saya nggak pernah mempermasalahkan gaji yang saya terima. Saya pikir, seseorang yang mengeluhkan gaji di tengah-tengah dia bekerja itu konyol. Kan sebelum meneken kontrak, pihak perusahaan udah ngasih tau gaji yang akan kita terima sekian dan tunjangan ini itu sekian. Kalau nggak cocok, kan kita bisa menolak sejak awal. Kalau udah dikasih tau tetep teken kontrak, trus di tengah perjalanan kerja ngeluhin gaji, ya konyol. Bener nggak.

Cuma satu yang paling mengecewakan dari perusahaan itu, mereka melanggar undang-undang tenaga kerja. Gini ceritanya, saya masuk di perusahaan tersebut tahun 2008 dengan kontrak setahun, dan tahun berikutnya, 2009 juga setahun. Idealnya, saat kontrak ketiga yaitu tahun 2010, saya sudah diangkat sebagai karyawan tetap. Satu yang saya pikirkan saat itu, biar mereka bisa mencover biaya persalinan dan beberapa fasilitas lain yang akan saya dapatkan sebagai karyawan tetap.

Di awal tahun 2010, HRD manggil sebagian karyawan kontrak di perusahaan itu. Inti dari pertemuan itu, kita-kita yang sudah dua tahun bekerja tidak bisa diangkat jadi karyawan tetap dulu dengan alasan perombakan sistem di HRD. entah itu apa, yang jelas. Mereka baru bisa angkat kita jadi karyawan dengan setahun kontrak lagi. Nah, artinya kan setahun lagi tuh alias kalau untuk saya itu Agustus 2011 nanti. Jadi masing-masing orang harus melewati 3 tahun kontrak kepegawaian dulu.
Mungkin motif awalnya mereka nggak mau rugi aja kali ya ngangkat karyawan sebanyak itu. Belum lagi printilan-printilan kekecewaan lain yang bikin tensi darah naik. Mulai dari atasan yang kurang manusiawi, jaringan kurang dan kalau nyuruh suka nggak mikir-mikir dulu. Yah,kayak kurang pengalaman gitu lah.

Kenapa saya bilang mereka nggak manusiawi? Waktu kehamilan saya masih di trimester pertama, saya kan minta untuk gak piket malem. Mereka awalnya nggak ngasih tapi setelah debat sana debat sini dan ngancem resign baru deh mereka oke. Mustinya, mereka mikir dong, perempuan hamil disuruh begadang semalaman. Emang mereka nggak pernah liat istri mereka hamil apa?

Belom lagi asuransi yang dikasih itu abal-abal. Dimana-mana, perusahaan ngasih biaya untuk check-up kehamilan itu paling gak 9 kali check-up. Nah ini, cuma sekali pake. Pas saya tanya ke HRD, jawaban yang saya dapet itu konyol banget. "Loh emang mba mau periksa kehamilan sebulan sekali?" gue jawab aja, yaiyalah. Mas ini kayak gak punya istri aja. Dalam hati, mungkin bininya gak pernah hamil makanya dia gak tau.

Belum lagi urusan cuti, wah kayaknya mereka nggak ridho banget kalau buruhnya cuti. Giliran atasan atau asred yang cuti, langsung acc. Konyol, cuti kan hak kita, mau leyeh-leyeh doang kek, urusan kita dong.

Masih banyak lah kekecewaan yang lain yang ujung-ujungnya membuat saya mau resign setelah jatah cuti tiga bulan saya dapetin. Cuti kelar, saya langsung cabut. Mereka aja melanggar undang-undang, saya juga bisa melanggar aturan perusahaan yang nggak ada catatan hitam diatas putih itu yakni sebelum resign paling tidak ada pemberitahuan dua minggu atau satu bulan sebelum resign.

Masa bodo dengan aturan itu, resign mendadak adalah salah satu cara saya untuk membalas kekejian mereka. Toh nggak ada benefit yang berarti kalau saya bertahan di sana. Kalaupun jadi karyawan tetap gaji saya nggak akan naik. Yang membedakan antara karyawan tetap dengan karyawan kontrak cuma satu. Kartu jamsostek. Amboi, kalau hanya Jamsostek, ngapain saya lama-lama di sini. Mending saya buka asuransi pensiun di tempat lain, yang benefitnya jauuuh lebih oke.

Atas alasan-alasan lain yang nggak mau saya sebutkan di sini, saya harus menyudahi kerja sama yang tidak menguntungkan ini paling lambat Maret 2011. Oke, memang dalam hidup, manusia cuma bisa merencanakan, berusaha, dan berdoa. Berhasil atau tidaknya tergantung Allah, Tuhan kita semua.

Misalnya kayak planing saya ini. Saya berencana untuk nggak kerja setelah melahirkan Kaka. Setelah masa cuti habis, saya mau cabut dari okezone.com. Selain karena kecewa berat sama manajemen okezone, saya mau total ngurus Kaka sampai kira-kira Kaka bisa ditinggal sama pengasuh atau sama neneknya. Mungkin paling cepet pas umur Kaka setahun saya udah harus kerja lagi. atau paling lambat ya tiga tahun. Tapiiii, planing saya bisa berubah. Misalnya, kalau saya terjebak sama keadaan yang nggak memungkinkan untuk resign, seperti Seno tiba-tiba dipecat sebelum saya mengundurkan diri.

Kalau-pun harus tetap bekerja, saya nggak mau di okezone lagi. Mungkin di masa-masa cuti saya bisa sambil ngelamar-ngelamar di tempat lain. Kenapa nggak tinggal lebih lama lagi di okezone?

No, perusahaan itu sampai kapanpun nggak akan membuat gaji saya naik. Mereka nggak menghargai pekerjanya sendiri, curang dan banyak lagi. Saya masih bertahan karena saya sedang hamil, saya nggak mau nggak dapat tunjangan di hari raya dan saya tetep mau dapet gaji setidaknya selama masa cuti melahirkan. Kejamnya, mereka sama sekali nggak mengganti biaya persalinan saya. Asuransi yang diberikan pun abal-abal.

Pokoknya sih saya bertekad bulat untuk hengkang dari okezone setelah cuti berakhir. Nggak peduli melanggar aturan atau apa. Rencana resign dari okezone sudah terpatri dalam hati.

Saya butuh suasana baru, atasan baru, gaji baru dan pastinya meningkat dari sebelumnya, manajemen kantor yang lebih baik, dan pro rakyat. *ngimpiii kali ye.. buka usaha sendiri sono kalau mau*

You right Pak Mario Teguh.. Anak buah membayar pengabdiannya kepada atasannya dengan usia. Jika anak buah salah memilih atasan, maka dia akan menyia-nyiakan usianya. Jika dia tidak menghormati anda dan tidak memungkinkan anda untuk menjadi pribadi yang mandiri dan terhormat, untuk apakah anda berlama-lama dibawahnya?

Rezeki Tuhan tersebar di muka bumi dan siap diunduh oleh jiwa yang tegas bagi kebaikan hidupnya.

Cinta Setelah Menikah Itu Ibadah


Sejak menikah saya nggak pernah bicara lagi soal cinta, soal sayang, soal perhatian dan kerinduan.. Soalnya, semua sudah saya dapatkan. Dari dia. Seno, my husband.

Setiap tindakan, pikiran dan rencana-rencana yang saya buat mencermintakn cinta, sayang dan kasih saya yang besar untuk dia. Satu tahun sudah berlalu, saya tahu sebagai istri, saya nggak sempurna. Saya punya segudang kekurangan baik fisik maupun nonfisik. Insya Allah saya nggak malu untuk terus berbenah diri jadi istri yang baik dan kelak jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya.

Sebagai istri, semua saya kerjakan sebisanya, semampu saya, semaksimal yang bisa saya berikan untuk rumah tangga kami. Rasa percaya, berusaha untuk selalu jujur, saling mendukung dan saling mendoakan kesuksesan dan kesehatan satu sama lain itu mutlak dilakukan. Setidaknya bagi saya.

Setelah menikah, maka apa yang saya perbuat tercatat sebagai ibadah. Perbuatan sepele apapun, mulai dari masak, nyuci piring, bersih-bersih rumah, nyuci, nyetrika, nyiapin makanan dan sebagainya jadi ibadah. Perbuatan buruk yang saya lakukan tercatat sebagai dosa. Dan setelah menikah, cinta, kasih dan sayang seorang istri pada suami juga terhitung ibadah. Sejak saya tahu bahwa menikah itu ibadah, saya jadikan menikah sebagai ladang ibadah saya, tempat saya meraup pahala sebanyak-banyaknya. Walau kadang, keluhan tidak jarang terucap dari mulut saya. Wajar, karena saya manusia biasa.

Setahun lebih menikah alias berumahtangga, saya belajar banyak hal dari pasangan saya, keluarganya, dari orang tua saya dan lingkungan saya. Saya belajar sabar ngadepin cobaan, belajar mengatur keuangan agar kami bisa menabung, belajar mengatur waktu dan belajar jadi orangtua. Kadang, saya meminjam Zahra -adik saya yang paling bontot- untuk latihan. Latihan kesabaran dan menyelami dunia anak-anak. Saya percaya, apa yang kita perbuat dampak langsungnya langsung ke diri kita. Untuk itu, saya berusaha banget agar perbuatan saya selalu terjaga, hati-hati dan penuh perhitungan.

Saat saya datang terlalu pagi di Press Room Istana Negera, Selasa 28 September 2010..

Selasa, 16 November 2010

Hamil, Salah Satu Bukti Bahwa Allah Maha Kuasa


Memang benar apa kata para pendahulu, bahwa proses kehamilan, melahirkan dan bahkan saat membesarkan anak Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Kita, manusia, akan merasa begitu kecil dan nggak punya daya apa-apa dibawah genggaman-Nya. Dan lewat kehamilan, menunjukkan satu bukti kecil bahwa Allah Maha Kuasa..

Tadi pagi, sebuah keajaiban kasih unjuk ke saya sama Seno. Sejak semalam, kami udah berdiskusi panjang lebar mengenai beberapa rumah sakit yang akan dipilih untuk sesar. Nah, dipilihlah RS Budi Kemuliaan. Secara jarak, jelas sangat jauh dari rumah, tapi kalau dipikir-pikir, di RS Budi Kemuliaan selain biaya yang sangat terjangkau dengan fasilitas komplit dan pelayanan yang Insya Allah memuaskan akan kita dapatkan.

Misal gini deh, untuk perbandingannya, di RS As-Syifa Medical Center deket rumah aja untuk kelas 2 saya bisa ngabisin sekitar 7-8 juta. Nah di RS Budi Kemuliaan, dengan budget yang sama saya bisa dapat kelas 1. Dan yang penting bisa ditungguin 24 jam sama anggota keluarga. Nah, lagian saya dan Seno juga sreg-nya di RS ini. Ya udah deh, sepakatlah kita pagi-pagi ke RS Budi Kemuliaan buat daftar.

Selepas salat subuh, kita mandi dan sarapan ekspres. Saya minum susu, Seno ngopi dan sedikit mengunyah roti tawar. Jam 7.30 pagi kita sampai dan langsung naik ke lantai 2. Setelah daftar pasien berjenjang atau pasien dengan bidan, kita disuruh nunggu sekitar 10 menit. Nggak lama kita dipanggil dan dikasih penjelasan sama petugas registrasi. Petugas yang umurnya kira-kira 50 tahunan itu menjelaskan ke kita, bahwa kelas berjenjang diprioritaskan untuk mereka yang kurang mampu. Masih penjelasan wanita paruh baya itu, katanya melihat riwayat saya yang pernah ditangani dokter di RS Hermina dan melihat faktor sosial juga, kita disarankan sebaiknya mengambil kelas dokter pribadi alias dokter spesialis.

Beliau ini juga menjelaskan bahwa kemudahan yang didapat pasien dokter pribadi lebih banyak, memang ada uang ada mutu. Misalnya gini, katakanlah saya harus disesar ditengah persalinan normal. Kalau pasien berjenjang itu akan melewati prosedur yang cukup panjang dan memakan waktu, sementara kondisi saya yang mungkin saat itu berkejaran dengan waktu jadi menghambat.

Karena kalau pasien berjenjang jelas nggak boleh memilih dokter spesialis yang diinginkan. Prosedurnya adalah riwayat kesehatan pasien harus dilaporkan dulu ke dokter spesialis yang jaga, terus ke dokter umum, dan beberapa tindakan lain yang memakan waktu. Sementara kalau pasien dokter pribadi si pasien langsung ditangani dokter pribadi itu tanpa melewati prosedur yang rumit. Oke, penjelasannya masuk akal juga. Kita nggak mikir panjang lagi karena waktu udah mepet, toh kalau memang mau balik ke jenis pasien berjenjang pasti boleh.

Yang dibenak saya waktu itu adalah gimana saya bisa diperiksa dokter saat ini juga, di USG dan tahu kondisi Kenzie. Titik! Persoalan pindah jenis pasien itu belakangan. Kita bertiga, saya, Seno dan petugas registrasi tadi naik ke lantai 3, tempat pendaftaran pasien dokter pribadi. Petugas tadi bicara sama petugas registrasi di lantai 3 dan kita pun disuruh nunggu.

Nggak sampai 10 menit, saya ditensi dan ditimbang. Disuruh nunggu untuk USG dan baru setelah itu ketemu dokternya. Saya dapet dokter Dwiarti Soebarkat SpOG. Saya nunggu sekitar 30 menit di depan ruang USG. Nama saya pun dipanggil dan seperti USG pada umumnya, saya disuruh berbaring dan perut saya diolesi gel. Disinilah keajaiban itu Allah tunjukkan. Tidak ada masalah dengan kandungan saya, meski belum masuk panggul, letak Kenzie sudah di bawah dan tidak sungsang. Kabar menggembirakan itu saja sudah membuat hati saya dan Seno melambung.

Saat saya tanya apa ada lilitan tali pusar, petugas itu belum bisa memastikan karena teknologi USG 2 Dimensi nggak bisa sedetail itu, dia hanya melihat ada plasenta disekitar lehernya, tapi belum pasti apakah itu hanya menempel atau benar-benar terlilit. Sepertinya, untuk memastikan ini saya tunggu dokter Bob pulang haji deh. Tanggal 22 atau 23 saya ke kliniknya. Kan deket dari kantor saya.

USG pun beres, antri lagi sekitar 10 menitan, dan ketemulah saya dengan dr Dwiarti, kalau nggak salah dokter ini dokter yang sama kayak dokternya sepupu gue Nunik deh. Pertama kali ketemu, saya pikir orangnya masih muda, nggak taunya udah berumur. Boleh dibilang senior lah beliau. Secara general, orangnya sangat komunikatif dan nyaman diajak bicara. Dan yang bikin saya heran, waktu perut saya dicek sama dia, pengecekan yang sama seperti yang dilakukan bu Bidan Eka kalau saya periksa, kok perut saya lentur gitu ya, dan beliau dengan mudah meraba kepala, pantat dan punggung Kenzie. Berbeda jauh saat saya ditangani bidan Eka. Perut saya keras di bagian bawah dan hanya teraba bagian atasnya aja. Mungkin bagian keras di atas perut saya dianggap kepala, makanya beliau bilang Kenzie sungsang.

Apa iya janin bisa milih tenaga medis yang akan menanganinya? Wallahualam kan...

Setelah tau kondisi Kenzie, legaaaaa banget perasan saya dan Seno.. Beratnya udah 2,9 kilo dan dua minggu lagi saya disarankan cardio topography atau CTG untuk rekam jantung Kenzie. Mudah-mudahan Allah kembali memberikan kemurahan sama saya untuk melahirkan Kenzie dengan normal dan lancar. Maksudnya spontan tanpa tindakan gitu. Dengan kejadian hari ini, saya belajar bahwa kita sebagai manusia itu nggak ada apa-apanya deh dibawah genggaman-Nya.. Subhanallah deh, saya nggak berenti untuk bersyukur untuk itu.

Senin, 15 November 2010

Ini yang Perlu Bumil Pikirkan Saat Hamil

Minggu (14/11/2010) adalah hari terakhir periksa kehamilan saya di Bidan Eka. Bidan yang sudah puluhan tahun ini berjibaku dengan bumil dan anak-anak ini angkat tangan dan menyarankan saya untuk bersalin di rumah sakit alias disesar. Bagaimana dengan perasaan saya- terutama-, pasti sedih. Mungkin kesedihan juga tergurat jelas diwajah suami saya. Mungkin bukan perkara uangnya, Insya Allah kami sudah siap dengan dana yang kami miliki untuk sebuah operasi sesar. Tapi lebih ke penyembuhan sesudahnya. Yang menjadi pikiran juga, apa benar Kenzie terbelit tali plasenta. Saya pun harus sabar seminggu lagi karena dokter USG 4 Dimensi saya, dr Bob Ichsan Masri, sedang menunaikan ibadah haji. Beliau baru kembali praktek sekitar tanggal 22 November ini.

Memang tidak ada jalan lain selain saya harus sabar menunggu kepulangannya. Toh pada tanggal beliau kembali usia Kenzie belum cukup matang untuk dikeluarkan dari dalam rahim saya. Sepulang dari rumah Bidan Eka saya dan Seno hunting lokasi untuk operasi sesar. Rujukan dari bu bidan ya di RS-Asyifa Medical Center, Parung. Deket sih sama rumah, tapi dokternya -yang kebetulan dokter pertama saya, dr Iskandar- lagi haji. Masya Allah, saya sampek mikir.. dokter-dokter obgyn saya kok kompak betul. Haji kok barengan. Ya sutralah, toh ada dokter lain selain dia, tapi dokter itu dokter baru di As-Syifa.

Habis salat maghrib saya dan Seno kesana, nanya price list sesar berapa. untuk kelas 1 berkisar 9 jutaan belum termasuk obat, Kelas II berkisar 8 juta belum termasuk obat, Kelas III berkisar 7 juta belum termasuk obat. Sebenernya, saya udah hunting dari kemaren-kemaren sih soal harga persalinan di berbagai rumah sakit, saya ngeliat bukan cuma normalnya doang tapi harga sesar juga saya lirik. Yah, bukannya berharap disesar, tapi saya mengantisipasi kemungkinan terburuk saja. Dari pada nanti susah. Saran saya buat Bumil lain ya begitu, siapkan dua-duanya. Normal dan sesar. Siap fisik dan mental untuk moment tersebut. Nggak cuma itu, kesiapan financial akan membuat kita -calon Ibu- jauh lebih tenang dalam menghadapi persalinan. Entah normal atau sesar. Setidaknya itu pengalaman pribadi saya.

Saya sih terserah mau disesar di kelas apa dan di RS mana, asal bisa ditungguin, minimal satu orang stay 24 jam sama saya. Jadi saya nggak kesusahan nanti begitu operasi selesai. Saya dengar cerita adik ipar saya, betapa dia begitu menderita setalh disesar, karena kelas di RS Budi Kemuliaan yang diambilnya tidak mebolehkan satu anggota keluarga, meskipun suaminya untuk tinggal bersamanya selama 24 jam. Udah gitu suster-suster di kelas 3 judes-judes semua, sama sekali nggak helpfull deh.

Masalah dana Insya Allah sudah disiapkan. Udah deh, saya makin sedih kalau mikirin ini. Kata orang, positif thingkin dan berdoa banyak-banyak bisa merubah keadaan. Saya melakukan itu tapi tetap sambil mikir kemungkinan terburuk.

Selasa, 09 November 2010

Saya Nunggu Keajaiban dari Allah

Istana Presiden, Selasa 9 November 2010.

Minggu ini kehamilan saya memasuki usia 36 minggu dan posisi Kenzie belum juga berubah. Kepala Kenzie masih di atas. Semalem sih udah ke Bidan Eka dan beliau nyuruh saya untuk USG lagi. Oke, saya memang mau USG lagi, tapi nanti tunggu dokter Bob pulang dari Tanah Suci atau sekitar tanggal 22 November. Tiga minggu dari sekarang. Tak apa-lah menunggu tiga minggu, toh saat dokter Bob pulang usia Kenzie didalam kandungan udah masuk 38 minggu. Usia yang pas untuk dilakukan tindakan sesar, jika memang harus sesar.

Tapi sejauh ini, saya masih optimis dan berusaha untuk membuat kepala Kenzie masuk panggul. Saya percaya, didalam sana Kenzie pasti berjuang untuk mencari jalan ke panggul. Upaya saya untuk membuka jalan ke Kenzie bukan sehari dua hari, saya sudah lakukan ini sejak diketahui kepala Kenzie masih di atas, atau sekitar minggu ke 33. Karena minggu-minggu sebelumnya Kenzie udah di bawah kepalanya. Hanya Allah yang Maha Tahu kenapa bisa terjadi seperti ini.

Yang saya percaya, bahwa proses terbentuknya manusia didalam rahim sepenuhnya kekuasaan Allah. Saya sebagai manusia tugasnya hanya menjaga, berusaha agar anak ini tetap sehat, membekali dia dengan ilmu yang saya miliki dan berdoa kepada Allah agar anak ini diberi kesempurnaan fisik dan jasmani dan sebagainya. Sisanya, tergantung bagaimana Allah.

Setelah rutin berminggu-minggu saya nungging tapi kepala Kenzie nggak juga turun, ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, leher Kenzie terlilit plasenta dan kedua plasenta saya yang pendek. Sebetulnya ada alternatif lain agar kepala Kenzie bisa masuk panggul, yaitu diputar dari luar tapi tindakan ini membahayakan nyawa Kenzie. Disamping itu, dunia medis sudah 'mengharamkan' hal ini. "Kita tidak bisa memaksakan posisi bayi mau seperti apa, biar dia sendiri yang menentukan mau bagaimana, dicoba lagi aja ya nunggingnya, kalau minggu depan memang nggak bisa ya terpaksa harus melahirkan di rumah sakit (alias disesar)," kata bu Bidan Eka semalem.

Saya sudah antisipasi kalau memang jalan sesar harus ditempuh. Setidaknya saya dan Seno sudah menyiapkan budget yang terjangkau untuk biaya sesar. Bukannya saya patah semangat untuk melahirkan normal. Tapi, apa iya saya nggak menyiapkan rencana-rencana lain selain bisa normal. Dalam kelahiran bukannya hanya dua alternatif, dan baik yang sudah dinyatakan bisa normal sekalipun juga harus menyiapkan biaya lebih untuk sesar kan?

Saya dan Seno juga begitu. Syukur-syukur kalau memang nggak jadi sesar. Saya dan Seno juga nggak mungkin ngambil resiko yang membahayakan nyawa Kenzie. Bu Bidan yang udah pengalaman puluhan tahun jadi bidan udah bilang kayak gitu. Nah, saya tinggal nunggu dokter Bob pulang dan menunggu rekomendasi dari dia.

Saya cuma nggak ingin mengalami kejadian kayak adik ipar saya. Udah di USG 2 kali, tapi USG-nya 2 dimensi, nggak kedeteksi tuh anaknya kelilit tali plasenta. Akibatnya, dia harus mengalami rupa-rupa tindakan, mulai dari induksi, dimasukkan balon ke vaginanya atau entah apa, yang intinya usaha untuk mengeluarkan anaknya, entah rasa sakit yang seperti apa yang sudah dia rasakan. dan ujung-ujungnya disesar juga karena ternyata anaknya terlilit tali plasenta.

Mungkin, kesalahan dia adalah dia nggak nyoba untuk USG 4 Dimensi. Atau mungkin juga dia nggak tau atau nggak punya biaya untuk USG 4 Dimensi. Bukannya rasa sakit yang saya takutkan, tapi lebih ke efisiensi waktu dan biaya. Coba deh, untuk melewati tindakan yang saya ceritain dia ngabisin berapa hari di Rumah Sakit Budi Kemulyaan, ada kali ya dua hari, baru deh malemnya diputuskan untuk disesar karena denyut jantung anaknya melamah. Nah, dengan tahu secara dini, berarti kan saya dan Seno udah tau apa yang harus dilakukan. Saya nggak mau memaksakan untuk normal jika memang tidak memungkinkan untuk dilakukan itu. Tapi selagi peluang untuk normal ada, saya dengan senang hati melakukan usaha apapun.

Seorang teman membesarkan hati saya lewat chating kemarin. "Setiap anak punya jalan lahir sendiri dari Allah,"

Ya, saya percaya, Allah punya cara sendiri untuk mengeluarkan Kenzie.

Jumat, 05 November 2010

Ultah ke-26 dan Erupsi Merapi di Yogyakarta

Istana Negara, Jumat, 5 November 2010, pukul 17.55 WIB

Hari ini saya genap berusia 26 tahun. Setiap saya berulang tahun, tak pernah saya mengharapkan kado berbentuk barang dari siapapun. Entah dulu saat masih berpacaran atau kini sudah menikah, atau dengan keluarga dan teman sekalipun. Doa-doa yang mereka ucapkan sudah lebih dari cukup untuk menyenangkan hati saya. Karena saya berfikir, diantara puluhan doa tersebut pasti ada satu atau dua orang yang doanya diijabah oleh Allah SWT.

Berhubung saya sedang hamil, lebih tepatnya menjelang melahirkan, doa terbanyak yang mereka panjatkan untuk saya adalah agar saya dimudahkan dalam melahirkan Kenzie nanti. Penggalan doa itu begitu menyentuh saya, karena doa yang sama saya baca berkali-kali baik di dalam hati maupun lisan. Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas paket-paket doa tersebut.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi hari ini. Yang paling menyedot perhatian adalah erupsi Gunung Merapi yang sangat dasyat dini hari tadi, lebih dari 100 orang meninggal terpanggang hidup-hidup karena awan panas bersuhu 600-800 derajat celsius. Hari ini, semua isu lewat. Semua redaktur, reporter dan petinggi negeri fokus ke Merapi.

Istana nggak kalah heboh, secara mendadak Presiden memutuskan untuk berkantor ke Yogyakarta sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Selepas salat Jumat, Presiden rapat terbatas dengan sejumlah menteri terkait yang mengurusi masalah bencana. Menjelang asar,Presiden menggelar konferensi pers. Paspampres, orang biro pers istana dan wartawan yang mau berangkat ke Yogyakarta tergopoh-gopoh menyiapkan ini itu untuk keperluan di sana.

Saya, yang sedang meliput di Istana juga nggak kalah sibuk. Alhamdulillah Kenzie mengerti kalau mama-nya sedang disibukkan dengan berita-berita Merapi. Jangan tanya bagaimana perasaan saya hari ini, saya terharu dan bahagia dengan doa-doa dari teman-teman saya dan sekaligus sedihnya bukan main karena nggak tega liat korban letusan Gunung Merapi. Yogyakarta berubah menjadi abu-abu.

Ya Allah, semoga engkau segera menyudahi musibah ini. Bagi yang wafat, berikan mereka surga-Mu dan bagi mereka yang masih hidup, berikan mereka ketabahan dan kesabaran untuk menghadapi cobaan-Mu.. amien.

Senin, 01 November 2010

Kenzie Apta Abimanyu

Sebetulnya saya punya pilihan sendiri untuk nama anak saya. Nama yang sangat Islami. Ada dua nama yang bagus untuk dia yaitu Labib Akmal Basyar dan Bilal Ar Rabah. Tapi, suami saya kurang suka dengan nama-nama yang berbau Islam. Bukannya membenci nama Islam. Dia cuma khawatir nama Islami akan memberatkan dia, entah urusannya dengan akhirat atau urusan dunia. Ya pokoknya nggak sreg aja deh. Daripada gara-gara nama nanti jadi ribut, saya ngalah dan kami browsing berdua.

Akhirnya, suatu malam, kami berdua browsing di internet. Kita sepakat untuk memberi nama dari bahasa manapun asal bukan nama Islami. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan nama untuk anak kami.

Karena menurut USG anak kami laki-laki, ditambah diperkuat dengan USG 4 dimensi pun hasilnya sama. Kami memutuskan untuk mencari satu nama. Wallahualam kalau ternyata Allah berkehendak lain. Kami tinggal mencari lagi, mudah kan..

Akhirnya kami menemukan nama depannya. Kenzie, orang mengira nama ini dari bahasa Jepang, tapi Kenzie berasal dari bahasa Sangsekerta yang artinya pemimpin yang bijaksana. Tidak sampai hitungan jam, kami menemukan nama tengah dan nama akhirnya. Dua nama Jawa yaitu Apta dan Abimanyu. Apta yang memiliki cerdas dan pandai. Abimanyu yang artinya tidak takut menghadapi kesulitan.

Jadi kalau digabung Kenzie Apta Abimanyu. Terkandung didalamnya doa dari kami, orangtuanya, bahwa kelak dia akan menjadi pemimpin yang bijaksana, cerdas dan pintar serta tidak takut menghadapi kesulitan apapun. Nama yang gagah bukan? *narsis ya saya*

Sejak kami menemukan nama untuk Kenzie. Kami tidak lagi memanggil dia dengan Kaka. Sepertinya Kenzie suka dengan namanya.. Dan sudah mengerti kalau namanya dipanggil Kenzie akan bergerak-gerak didalam perut saya.. Subhanallah.

6 Minggu Lagi, Insya Allah Saya Jadi Ibu

Saya berada di minggu-minggu terakhir masa kehamilan. Lebih tepatnya 6 minggu lagi menjelang persalinan. Itu masih prediksi manusia, entah ketetapan Allah bagaimana. Mungkin bisa maju bisa juga mundur. Yang saya percaya, kapanpun saatnya melahirkan nanti, Allah sudah memiliki perhitungan sendiri. Soal caranya bagaimana, entah normal atau sesar, entah di rumah sakit atau di rumah bersalin milik bidan eka, atau malah mungkin di rumah sendiri. Tidak ada yang tahu. Manusia hanya berusaha dan berdoa. Saya pun demikian, di usia kandungan yang memasuki 34 minggu, kepala bayi saya masih betah berada di atas, alias masih sungsang. Padahal, usia seperti ini harusnya dia sudah mapan di panggul saya. Tapi siapa yang tahu dia akan membalikkan kepalanya kapan. Yang penting, dua minggu ke depan -sampai usia kandungan saya 36 minggu- saya harus banyak-banyak nungging. Persoalan berhasil atau tidak itu urusan Allah, saya berusaha saja semaksimal mungkin.

Saya bersyukur bisa melewati 34 minggu dengan baik. yaaa walau dalam perjalanannya saya sering mengeluhkan ini dan itu. Kadang saya nggak bersyukur dengan kehamilan ini -kalau lagi cuapeeek banget sama keadaan-. Kadang pengen cepet-cepet mengakhiri masa kehamilan ini biar beban saya lepas. Maksudnya, beban yang saya bawa-bawa ini looh..

Yang jarang diakui ibu hamil, bahwa hamil itu setengah menyenangkan dan setengah menyebalkan. Saya mengakui itu. Namanya juga manusia, ada saja kan keluhannya.. Sejauh ini, mau senang, mau menyebalkan, saya berusaha menikmatinya..

6 minggu lagi.. Insya Allah saya jadi Ibu.. Ibu untuk Kaka.. Ngomong-ngomong, saya udah nggak sabar kepingin melihat anak saya lahir di dunia.. Doakan yaa.