Minggu (14/11/2010) adalah hari terakhir periksa kehamilan saya di Bidan Eka. Bidan yang sudah puluhan tahun ini berjibaku dengan bumil dan anak-anak ini angkat tangan dan menyarankan saya untuk bersalin di rumah sakit alias disesar. Bagaimana dengan perasaan saya- terutama-, pasti sedih. Mungkin kesedihan juga tergurat jelas diwajah suami saya. Mungkin bukan perkara uangnya, Insya Allah kami sudah siap dengan dana yang kami miliki untuk sebuah operasi sesar. Tapi lebih ke penyembuhan sesudahnya. Yang menjadi pikiran juga, apa benar Kenzie terbelit tali plasenta. Saya pun harus sabar seminggu lagi karena dokter USG 4 Dimensi saya, dr Bob Ichsan Masri, sedang menunaikan ibadah haji. Beliau baru kembali praktek sekitar tanggal 22 November ini.
Memang tidak ada jalan lain selain saya harus sabar menunggu kepulangannya. Toh pada tanggal beliau kembali usia Kenzie belum cukup matang untuk dikeluarkan dari dalam rahim saya. Sepulang dari rumah Bidan Eka saya dan Seno hunting lokasi untuk operasi sesar. Rujukan dari bu bidan ya di RS-Asyifa Medical Center, Parung. Deket sih sama rumah, tapi dokternya -yang kebetulan dokter pertama saya, dr Iskandar- lagi haji. Masya Allah, saya sampek mikir.. dokter-dokter obgyn saya kok kompak betul. Haji kok barengan. Ya sutralah, toh ada dokter lain selain dia, tapi dokter itu dokter baru di As-Syifa.
Habis salat maghrib saya dan Seno kesana, nanya price list sesar berapa. untuk kelas 1 berkisar 9 jutaan belum termasuk obat, Kelas II berkisar 8 juta belum termasuk obat, Kelas III berkisar 7 juta belum termasuk obat. Sebenernya, saya udah hunting dari kemaren-kemaren sih soal harga persalinan di berbagai rumah sakit, saya ngeliat bukan cuma normalnya doang tapi harga sesar juga saya lirik. Yah, bukannya berharap disesar, tapi saya mengantisipasi kemungkinan terburuk saja. Dari pada nanti susah. Saran saya buat Bumil lain ya begitu, siapkan dua-duanya. Normal dan sesar. Siap fisik dan mental untuk moment tersebut. Nggak cuma itu, kesiapan financial akan membuat kita -calon Ibu- jauh lebih tenang dalam menghadapi persalinan. Entah normal atau sesar. Setidaknya itu pengalaman pribadi saya.
Saya sih terserah mau disesar di kelas apa dan di RS mana, asal bisa ditungguin, minimal satu orang stay 24 jam sama saya. Jadi saya nggak kesusahan nanti begitu operasi selesai. Saya dengar cerita adik ipar saya, betapa dia begitu menderita setalh disesar, karena kelas di RS Budi Kemuliaan yang diambilnya tidak mebolehkan satu anggota keluarga, meskipun suaminya untuk tinggal bersamanya selama 24 jam. Udah gitu suster-suster di kelas 3 judes-judes semua, sama sekali nggak helpfull deh.
Masalah dana Insya Allah sudah disiapkan. Udah deh, saya makin sedih kalau mikirin ini. Kata orang, positif thingkin dan berdoa banyak-banyak bisa merubah keadaan. Saya melakukan itu tapi tetap sambil mikir kemungkinan terburuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar