Senin, 22 November 2010

Sorry, I'm Out!

Saya bergabung di perusahaan media ini agustus 2008. Sejak awal sampai sekarang memang saya nggak pernah mempermasalahkan gaji yang saya terima. Saya pikir, seseorang yang mengeluhkan gaji di tengah-tengah dia bekerja itu konyol. Kan sebelum meneken kontrak, pihak perusahaan udah ngasih tau gaji yang akan kita terima sekian dan tunjangan ini itu sekian. Kalau nggak cocok, kan kita bisa menolak sejak awal. Kalau udah dikasih tau tetep teken kontrak, trus di tengah perjalanan kerja ngeluhin gaji, ya konyol. Bener nggak.

Cuma satu yang paling mengecewakan dari perusahaan itu, mereka melanggar undang-undang tenaga kerja. Gini ceritanya, saya masuk di perusahaan tersebut tahun 2008 dengan kontrak setahun, dan tahun berikutnya, 2009 juga setahun. Idealnya, saat kontrak ketiga yaitu tahun 2010, saya sudah diangkat sebagai karyawan tetap. Satu yang saya pikirkan saat itu, biar mereka bisa mencover biaya persalinan dan beberapa fasilitas lain yang akan saya dapatkan sebagai karyawan tetap.

Di awal tahun 2010, HRD manggil sebagian karyawan kontrak di perusahaan itu. Inti dari pertemuan itu, kita-kita yang sudah dua tahun bekerja tidak bisa diangkat jadi karyawan tetap dulu dengan alasan perombakan sistem di HRD. entah itu apa, yang jelas. Mereka baru bisa angkat kita jadi karyawan dengan setahun kontrak lagi. Nah, artinya kan setahun lagi tuh alias kalau untuk saya itu Agustus 2011 nanti. Jadi masing-masing orang harus melewati 3 tahun kontrak kepegawaian dulu.
Mungkin motif awalnya mereka nggak mau rugi aja kali ya ngangkat karyawan sebanyak itu. Belum lagi printilan-printilan kekecewaan lain yang bikin tensi darah naik. Mulai dari atasan yang kurang manusiawi, jaringan kurang dan kalau nyuruh suka nggak mikir-mikir dulu. Yah,kayak kurang pengalaman gitu lah.

Kenapa saya bilang mereka nggak manusiawi? Waktu kehamilan saya masih di trimester pertama, saya kan minta untuk gak piket malem. Mereka awalnya nggak ngasih tapi setelah debat sana debat sini dan ngancem resign baru deh mereka oke. Mustinya, mereka mikir dong, perempuan hamil disuruh begadang semalaman. Emang mereka nggak pernah liat istri mereka hamil apa?

Belom lagi asuransi yang dikasih itu abal-abal. Dimana-mana, perusahaan ngasih biaya untuk check-up kehamilan itu paling gak 9 kali check-up. Nah ini, cuma sekali pake. Pas saya tanya ke HRD, jawaban yang saya dapet itu konyol banget. "Loh emang mba mau periksa kehamilan sebulan sekali?" gue jawab aja, yaiyalah. Mas ini kayak gak punya istri aja. Dalam hati, mungkin bininya gak pernah hamil makanya dia gak tau.

Belum lagi urusan cuti, wah kayaknya mereka nggak ridho banget kalau buruhnya cuti. Giliran atasan atau asred yang cuti, langsung acc. Konyol, cuti kan hak kita, mau leyeh-leyeh doang kek, urusan kita dong.

Masih banyak lah kekecewaan yang lain yang ujung-ujungnya membuat saya mau resign setelah jatah cuti tiga bulan saya dapetin. Cuti kelar, saya langsung cabut. Mereka aja melanggar undang-undang, saya juga bisa melanggar aturan perusahaan yang nggak ada catatan hitam diatas putih itu yakni sebelum resign paling tidak ada pemberitahuan dua minggu atau satu bulan sebelum resign.

Masa bodo dengan aturan itu, resign mendadak adalah salah satu cara saya untuk membalas kekejian mereka. Toh nggak ada benefit yang berarti kalau saya bertahan di sana. Kalaupun jadi karyawan tetap gaji saya nggak akan naik. Yang membedakan antara karyawan tetap dengan karyawan kontrak cuma satu. Kartu jamsostek. Amboi, kalau hanya Jamsostek, ngapain saya lama-lama di sini. Mending saya buka asuransi pensiun di tempat lain, yang benefitnya jauuuh lebih oke.

Atas alasan-alasan lain yang nggak mau saya sebutkan di sini, saya harus menyudahi kerja sama yang tidak menguntungkan ini paling lambat Maret 2011. Oke, memang dalam hidup, manusia cuma bisa merencanakan, berusaha, dan berdoa. Berhasil atau tidaknya tergantung Allah, Tuhan kita semua.

Misalnya kayak planing saya ini. Saya berencana untuk nggak kerja setelah melahirkan Kaka. Setelah masa cuti habis, saya mau cabut dari okezone.com. Selain karena kecewa berat sama manajemen okezone, saya mau total ngurus Kaka sampai kira-kira Kaka bisa ditinggal sama pengasuh atau sama neneknya. Mungkin paling cepet pas umur Kaka setahun saya udah harus kerja lagi. atau paling lambat ya tiga tahun. Tapiiii, planing saya bisa berubah. Misalnya, kalau saya terjebak sama keadaan yang nggak memungkinkan untuk resign, seperti Seno tiba-tiba dipecat sebelum saya mengundurkan diri.

Kalau-pun harus tetap bekerja, saya nggak mau di okezone lagi. Mungkin di masa-masa cuti saya bisa sambil ngelamar-ngelamar di tempat lain. Kenapa nggak tinggal lebih lama lagi di okezone?

No, perusahaan itu sampai kapanpun nggak akan membuat gaji saya naik. Mereka nggak menghargai pekerjanya sendiri, curang dan banyak lagi. Saya masih bertahan karena saya sedang hamil, saya nggak mau nggak dapat tunjangan di hari raya dan saya tetep mau dapet gaji setidaknya selama masa cuti melahirkan. Kejamnya, mereka sama sekali nggak mengganti biaya persalinan saya. Asuransi yang diberikan pun abal-abal.

Pokoknya sih saya bertekad bulat untuk hengkang dari okezone setelah cuti berakhir. Nggak peduli melanggar aturan atau apa. Rencana resign dari okezone sudah terpatri dalam hati.

Saya butuh suasana baru, atasan baru, gaji baru dan pastinya meningkat dari sebelumnya, manajemen kantor yang lebih baik, dan pro rakyat. *ngimpiii kali ye.. buka usaha sendiri sono kalau mau*

You right Pak Mario Teguh.. Anak buah membayar pengabdiannya kepada atasannya dengan usia. Jika anak buah salah memilih atasan, maka dia akan menyia-nyiakan usianya. Jika dia tidak menghormati anda dan tidak memungkinkan anda untuk menjadi pribadi yang mandiri dan terhormat, untuk apakah anda berlama-lama dibawahnya?

Rezeki Tuhan tersebar di muka bumi dan siap diunduh oleh jiwa yang tegas bagi kebaikan hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar