Kamis, 20 Oktober 2011

Mulut Bayiku Kok Bau Ya...

Meski bukan tergolong penyakit, gangguan ini merupakan gejala adanya penyakit. Nah, orang tualah yang harus segera cari tahu apa dan
di mana sumber penyakit itu bercokol.
Bau tak sedap tercium dari mulut anak ketika ia bangun tidur? Itu, sih, hal biasa karena air liurnya memang sedikit sewaktu tidur. Bau
mulut seperti ini sifatnya sementara, kok, dan akan hilang dengan sendirinya. Bahkan anak sendiri sama sekali tak mencium bau tersebut,
hingga umumnya tak menimbulkan dampak psikologis semisal malu atau jadi rendah diri.
Yang tak normal adalah jika bau busuk tercium menyengat. Biasanya, justru ibu atau dokter gigi yang "mengendus" hal ini. Bau mulut alias
halitosis, umumnya terkait dengan masalah kebersihan mulut. "Misalnya ada pembusukan sisa-sisa makanan oleh kuman," jelas Drg.
Magdalena Lesmana, Sp.Orth . Bisa juga karena makan makanan tertentu seperti bawang putih atau pete. "Normalnya, mulut anak tak
mengeluarkan bau kurang sedap. Paling-paling kasusnya ditemukan pada anak yang giginya sudah tumbuh."
Toh, meski bukan tergolong penyakit, bau mulut pada anak tetap mesti diwaspadai karena merupakan gejala penyakit. "Penyakit inilah
yang harus dicari sumbernya."
PENYAKIT "TERSEMBUNYI"
Penyebab bau mulut, kata Dr.dr . H. Muljono Wirjodiardjo, SpA(K) dari RS Internasional Bintaro, bisa juga karena ada gangguan
pernapasan, semisal sinusitis. Penyakit yang disebabkan alergi ini membuat hidung mengeluarkan banyak lendir. "Kumpulan lendir hidung
inilah yang mengundang kuman dan akhirnya menyebabkan bau mulut. Bahkan bau mulut akan menjadi-jadi bila sampai terjadi infeksi di
hidung."
Penyakit ini banyak dijumpai pada anak di atas usia 5 tahun. "Kepastian ada-tidaknya gangguan sinusitis, antara lain dilakukan melalui
rontgen dan diobati dengan antibiotika."
Kelainan pencernaan juga bisa jadi penyebab bau mulut tak sedap. "Misalnya, getah lambung yang berbalik ke atas, naik ke tenggorokan,
akibat gerakan-gerakan tak normal dari usus atau pencernaannya." Gangguan ini pun, umumnya baru muncul saat anak berusia 3 tahun
ke atas. Penyakit lainnya, kata Muljono, adalah infeksi paru-paru atau TBC, kanker (yang umumnya dialami orang dewasa), dan pengidap
kencing manis.
Pasta Gigi Dan Obat Kumur
Banyaknya pilihan pasta gigi dengan aneka rasa kesukaan anak sebetulnya amat menguntungkan orang tua. Soalnya, anak jadi gampang
diajak gosok gigi. Fluor dan kandungan zat-zat lain pun dapat melindungi sekaligus memperkuat gigi. Jika saat menggosok gigi,pasta gigi ini
tertelan. "Tidak membahayakan, kok," kata Magda . Yang jelas, pasta gigi pada dasarnya tidak ditujukan untuk menghilangkan bau mulut!
Sementara obat kumur, memang memberi efek menyegarkan napas sekaligus mematikan kuman. Tapi penggunaan pada anak nyaris tidak
pernah diberikan karena dikhawatirkan tertelan dan mungkin mengganggu pencernaan. "Bahkan penggunaan pada orang dewasa pun,
seharusnya hanya atas petunjuk dokter dan tidak terus-menerus," terang Magda.
Kenali Faktor Penyebab
KEBERSIHAN MULUT
Pada anak, kebersihan mulut merupakan hal yang sangat penting. Bila tidak mendapat perhatian, kuman yang ada dalam mulut akan
mempercepat proses pembusukan sisa-sisa makanan yang masih menempel di gigi dan akhirnya menyebabkan bau mulut. Mengingat
anak usia ini belum bisa diharapkan menjaga kebersihan mulutnya sendiri, peran orang tua sangat penting. Paling tidak, dampingi/bantu
anak menyikat giginya setiap kali habis makan.
GIGI BERLUBANG
Masalah gigi berlubang sebetulnya merupakan kelanjutan dari kebersihan mulut yang kurang terjaga. Akibatnya, sisa-sisa makanan yang
masih menempel di gigi lama-lama membuat gigi jadi berlubang. Bila dibiarkan, sisa-sisa makanan akan semakin mudah tertimbun di
dalamnya dan amat mungkin menyebabkan infeksi lalu menimbulkan bau tak sedap. Amat disarankan untuk segera membawa anak ke
dokter gigi bila tercium bau mulut. Kalau tak ada masalah di mulut dan gigi berlubang sudah ditambal namun tetap bau mulut, jangan
ragu konsultasikan ke dokter anak.
GIGI TAK RATA
Ini juga merupakan salah satu penyebab bau mulut. Sebabnya, sisa-sisa makanan jadi mudah terselip di antara gigi-gigi tersebut.
Sementara upaya mengangkat sisa-sisa makanan yang terselip tadi dengan hanya menyikat gigi jadi relatif lebih sulit. Kondisi gigi tak rata
umumnya ditemui pada anak usia 9 tahunan, saat beberapa gigi susunya sudah tanggal.
RADANG GUSI
Kebersihan mulut yang kurang terjaga pada gilirannya juga bisa menyebabkan peradangan gusi. Cirinya, gusi berwarna kemerahan meski
tak selalu tampak bengkak. Saat menyikat gigi, gusi yang mengalami peradangan biasanya jadi mudah berdarah. Nah, adanya perdarahan
ini bisa memunculkan bau mulut. Begitu pula perdarahan sehabis penanganan gigi yang menimbulkan perlukaan di mulut, semisal cabut
gigi.
SARIAWAN
Juga bisa menyebabkan bau mulut, karena adanya luka. Hanya saja bau mulut ini akan hilang bersamaan dengan hilangnya sariawan. Mau
tidak mau sariawannya harus lebih dulu disembuhkan.
LIDAH PUTIH
Pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan, jelas dr. Muljono , kadang ditemui jamur di lidahnya yang ditandai warna putih di permukaan
lidah. Orang tua sering mengira warna putih tersebut sebagai sisa susu yang menempel di lidah. Jamur inilah yang bisa menyebabkan bau
mulut. Namun tak semua anak mengalaminya, tergantung dari kebersihan mulutnya. Dokter gigi atau dokter anak biasanya akan memberi
semacam larutan gentian violet untuk "mengikis" lapisan putih tadi.
MAKAN DIEMUT
Anak yang emoh mengunyah makanan karena terbiasa disodori makanan lunak, biasanya juga cenderung punya masalah bau mulut.
Begitu juga anak dibiasakan minum susu sambil tidur. Sebab, anak jadi tak menggunakan alat kunyahnya hingga air liurnya sedikit
disamping tak ada proses pembersihan. Padahal jika alat-alat kunyahnya mulai gigi, lidah, otot pipi, dan bibir dipakai dan bergerak semua,
air liur akan tambah banyak hingga terjadi proses pembersihan sendiri. Sementara anak yang makannya diemut, waktu makannya jadi
lebih lama. Imbasnya, sisa-sisa makanan lebih lama mengendap/menempel di gigi.
Kiat Merawat Anak
* Lakukan perawatan gigi, saran Magda , sejak dini saat mulai tumbuh gigi susu. Caranya, bersihkan secara teratur menggunakan kapas
basah setiap kali habis minum susu.
* Jangan biasakan minum susu botol sambil tidur karena susu yang mengandung gula bila menggenangi gigi terlalu lama akan membuat
gigi mudah rusak.
* Bila giginya sudah makin banyak, ajarkan anak menggosok gigi setiap kali habis makan, minimal 2 x sehari.
* Ajak ke dokter gigi secara berkala 6 bulan sekali, ada ataupun tidak ada keluhan. Bila sudah ada keluhan justru berarti sudah ada masalah
hingga penanganannya lebih bersifat menyembuhkan.
* Agar anak mau bersikap kooperatif saat dibawa ke dokter gigi, orang tua dan dokter pun harus mau membina kerja sama. Kalaupun
awalnya anak menolak, ya, jangan pernah memaksa.
Dedeh Kurniasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar