Senin, 14 Februari 2011

Ini Cerita Saya Melahirkan Kenzie di dr Bob Ichsan Masri

Ini cerita 23 Desember 2010

Kata Ibu, proses melahirkan Kenzie adalah proses yang paling mengerikan sepanjang beliau melihat kelahiran seorang bayi. Terlebih Ibu kan udah pernah melahirkan sebanyak 8 kali. Kalau saya no comment, karena setiap orang punya pengalaman dan taste tersendiri saat melahirkan anaknya. Apalagi saya melahirkan anak pertama, jadi belum bisa membanding-bandingkan.

Banyak temen-temen saya yang tanya kenapa akhirnya saya melahirkan di klinik dr Bob. Gini ceritanya, Selasa 21 Desember, saya sama Seno pergi ke klinik dr Bob untuk melihat kondisi kandungan karena udah lewat 5 hari. Kalau saran bidan sih tunggu sampai 41 minggu. Tapi kok saya nggak yakin ya, nah pergilah kami pagi-pagi ke klinik dr Bob. Sampai sana sekitar jam 10 dan seperti biasa langsung antri. Dapat antrian nomer 4. Kalau dikira-kira saya bakal diperiksa sekitar jam 1 siang. Dengan asumsi satu pasien sekitar 30-40 menit sekali periksa. Karena masih lama, Seno memutuskan untuk ke kantor dulu. Jarak antara kantornya dan klinik dr Bob kan dekat. Paling nggak sampe 10 menit sampai. Sekitar jam 12-an, giliran saya diperiksa. Loh kok cepet ya? Oo ternyata satu pasien kandungannya baru berumur beberapa minggu, masih kecil dan belum banyak yang dilihat. Pantesan cepet!

Karena masih nunggu Seno, saya minta dilewat dulu. Sambil nunggu Seno, saya salat dhuhur. Sebetulnya, kalau pemeriksaan rutin sih nggak ada Seno nggak apa-apa, tapi nggak untuk pemeriksaan kali ini. Kalau ada Seno, saya bisa ngambil keputusan cepat. Dan benar, dari hasil pemeriksaan, air ketuban sudah dikit. Saya lupa istilahnya apa tapi untuk kadar yang air ketuban yang tersisa yaitu 5,7, rumah sakit dimanapun nggak akan mau menerima kalau saya minta normal dengan cara diinduksi terlebih dahulu. Saya juga cerita sama beliau bahwa saya nggak pernah mules, kalau pun ada cuma palsu. Kalau kontraksi hampir tiap hari tapi nggak ada mules, makanya saya nanya gimana peluang keberhasilan persalinan dengan induksi, mengingat banyak kawan saya yang gagal induksi dan berakhir di meja operasi, sesar.

"Standar WHO, air ketuban dengan nilai 4 masih bisa dilakukan normal. Tapi kalau di Indonesia, standarnya di bawah 7. Ibu bawa hasil dari saya ke rumah sakit manapun, mereka nggak akan mau nanganin normal, pasti sesar. Tolong dipikirkan," kata dr Bob menjelaskan.

Jujur, saya kuatir dengan kegagalan induksi yang banyak dialami teman-teman saya. dr Bob, dengan penjelasan yang sangat masuk akal, menjelaskan proses induksi yang benar. "Analoginya begini, kita metik mangga mentah, untuk menjadi mateng kan musti diperem dulu atau diimbu, untuk mateng kan harus sehari dua hari. Kira-kira begitu penjelasan induksi. Kalau Ibu induksi di sini, hari ini induksi dengan kadar tetesan 20 per menit, besok kita istirahatkan kurang lebih 24 jam, kita pantau kematangan jalan lahir, baru besoknya kita akselerasi dan kadar tetesan kita naikkan menjadi 60 tetes per menit. Dari situ kita pantau terus sampai matang," kata dia panjang lebar.

Lantas, saya tanya kenapa banyak induksi gagal dan berujung pada sesar. Jawabannya sederhana, lagi-lagi karena urusan komersil dan tim medis yang kurang sabar. "Coba anda bayangin seorang dokter datang untuk visit itu nggak dibayar loh baru dibayar setelah pasien mau melahirkan. Nah, induksi kan lama dan perlu dipantau terus. Kalau dokternya nggak sabar, ya ujungnya sesar dengan begitu pasien akan bayar lebih mahal dan duit pun masuk kantong dokter itu. ngapain repot-repot. Untuk bidan juga sama, memang hari gini ada yang rela-rela antar pasien ke rumah sakit atau merujuk pasien dia ke rumah sakit untuk sesar dan dia nggak dapat komisi? Nggak ada, bidan kan juga punya keluarga yang harus dia hidupi,'' kata dia.

''Peluang untuk melahirkan normal masih besar. Jadi begitu ya dari saya, tolong anda berdua pikir-pikir," kata dr Bob menutup sesi pemeriksaan. Kalau saya, percaya 100 persen penanganan kelahiran Kenzie sama dr Bob. Tanpa mikir panjang, begitu juga Seno, saya langsung mengiyakan untuk induksi di klinik ini. Kami yakin berada di tempat dan orang yang tepat. Saya percaya, induksi ini akan berhasil. Keputusan diambil saat makan siang di kantin bawah. Selapas itu, Seno pulang untuk mengambil perlengkapan yang sudah disiapkan di rumah. Saya naik lagi ke lantai 2.

Sambil tunggu Seno datang, saya sms keluarga. Nggak lama Ibu nelpon. Kalau inget suara Ibu di telpon saat itu, sampai sekarang saya pasti mau nangis. Ibu, dengan suara yang terdengar cemas berpesan untuk nggak takut dan minta keselamatan dari Allah. Sambil nulis bagian ini pun air mata saya bercucuran. Saya telpon Seno dan wanti-wanti Ibu jangan sampai ikut ke sini karena saya pasti nggak kuat ngeliatnya.

Jam 3 sore, kamar di lantai 2 sudah ready dan saya ganti baju, tensi darah dan proses induksi-pun dimulai. Jam 3.40 pm, bidan nira melakukan pemeriksaan dalam, gue pikir begitu doang gitu, jari bidan dimasukin dan selesai. Waaks, nggak taunya dia masuk lebiiiiiih dalem lagi... Dan tusuk sana tusuk sini, agak ngilu sih.. Cuma kalimat sugesti itu ngalahin semuanya.. Hehehehe *masih kuat gitu*..

''rahimnya belum membuka sih tapi udah masuk satu jari,'' kata bidan nira.

''maksudnya udah pembukaan satu kali ya''.. Kalau iya, loh kenapa saya nggak nyadar ya, bukannya bloodyshow dulu baru ada pembukaan ya..

''tiap orang beda-beda bu'' kata bidan nira..

''ooh iya ya.. Percaya saya''

Mudah-mudahan pembukaan lengkap gak sampai 24 jam.. Jangan stres ya :) sebelah saya juga lagi diinduksi, udah nangis-nangis bombaiiiiii..

Sejak awal saya bertekad nggak akan teriak-teriak nggak penting dan mengamuk secara brutal. Tenaga saya khusus dusiapkan hanya untuk melahirkan Kenzie.. Pelajaran-pelajaran dari buku hypnobirthing dan surfing internet saatnya diterapkan hehehehe...

Jam 5 sore, bloody show mule keluar. Abis itu baru deh ngerasain mules dikit-dikit..kayak kita mau haid gitu lah rasanya, alhamdulillah ada kemajuan, mules yang belum seberapa itu saya rasain makin sering. Walau durasinya 1 jam sampai setengah jam sekali.. Tapi bukan berarti pembukaan akan lengkap dalam beberapa jam. Soalnya, dari penjelasan yang saya dapet, mules diinduksi sama mules alami itu jauuuh berbeda.

Menjelang maghrib Seno datang, dia nggak sendiri, Ibuku yang cantik itu juga datang. Saya cium tangan Ibu dan beliau cium kening saya sambil bilang ''jangan takut ya,''. Saya tahan kuat-kuat agar saya nggak nangis saat itu, buat saya nangis akan membuat saya lemes. Saya tanya ke suami, kenapa Ibu bisa ikut. Kasihan Ibu nanti capek, nungguin kek gini kan lama, belum lagi jarak antara klinik ini sama rumah nggak dekat. Kasihan kalau harus bolak-balik. Saya juga sebenernya udah bilang hal ini ke Ibu, tapi Ibu ngotot ikut.

"Namanya juga sama anak sendiri, ya nggak repot, Ibu udah bilang kayak gitu aku nggak bisa ngomong apa-apa,'' kata suamiku.

Daripada suntuk di kamar, ditambah agak bete denger mba2 disamping saya nangis mulu, mending saya jalan-jalan deh ke bawah. Sampai bawah, waah gerimis, batal deh jalan-jalan, akhirnya saya sama seno naik ke loteng, ke lantai 4.. Itung-itung jalan-jalan lah, katanya sih bisa nambah pembukaan. Nyatanya enggak tuh, mungkin buat orang lain iya tapi buat saya enggak, karena setelah dipikir-pikir saat usai persalinan, pembukaan yang saya alami harus disertai dengan mules. Tanpa mules ya nggak ada pembukaan.

Sekitar jam 10.30 malam, finally si mba sebelah saya lahiran dengan dibantu vakum. Akhirnya penderitaan si mba itu kelar.. Giliran saya nih hihihihih... Gak sabar deeh..

Rabu, 22 Desember 2010

Jam 00.07 dini hari. Lagi enak-enaknya tidur saya dibangunin buat periksa dalem. Nggak sakit kok, katanya miss v saya tergolong elastis. Oh alhamdulillah deh, jadi kemungkinan saya nggak dapat jahitan. *ngarep..*

Habis sarapan pagi, seorang bidan ngasih tau kalau hari ini nggak ada induksi karena mau dipantau dulu. Induksi dilakukan kembali sekitar jam 4 sore, kata dokter Bob sih namanya akselerasi, tetesan induksinya ditambah jadi 60 tetes per menit. Nggak sampai 30 menit dari cairan induksi dipasang, ketuban saya pecah. Kata bidan itu pertanda bagus karena pembukaannya bisa cepet. "Paling cepet jam 4 pagi Ibu sudah melahirkan," kata dokter Bob pas ngevisit saya.

Dari pecah ketuban, setiap berapa jam gitu saya diperiksa dalam dan dicek jantung janin. Entah itu dilakukan berapa kali sampai proses melahirkan. Harus saya akui, mules diinduksi memang luar biasa, yang nggak enak adalah mulesnya bener-bener terus-terusan, saya nggak dikasih jeda sedikitpun untuk merasakan ketenangan. Pas saya tanya ke bidan, memang begitu kalau diinduksi. Ya oke lah, toh mules ini kan yang saya rindukan sejak kemarin-kemarin. :p

Yang paling menyiksa adalah saat keinginan mengejan begitu besar tapi saya dilarang untuk melakukan itu. Kalau nggak salah pas bukaan 7-10.. Nahannya membuat saya nyahoo hehehehe.. 8 jam lebih saya mengalami hal ini. Wah pingin bunuh diri deh pokoknya, Ibu dan Seno yang melihat saya kesakitan dan mondar-mandir nggak jelas di kamar sambil terus mengaduh cuma bisa berdoa dan ngasih supprort. Saya sempet nyerah, dan minta disesar. Tapi Ibu dan Seno terus menggenjot semangat saya. ''Sabar, sebentar lagi kok''..

Denger jawaban begitu saya jelas senewen. ''Sabar, sabar, ih nggak ngerasain sih. Mana sih dokter Bob. Lama banget, katanya tadi jam 10, sekarang udah jam 11 nggak dateng-dateng,"

Saya tanya ke bidan-bidan yang bolak balik mantau saya. ''udah bukaan berapa sih mba, saya udah kepingin banget ngeden nihh. Masa daritadi 9 terus. Dokter Bob juga mana sih," saya yang tadinya sebel banget periksa dalam kali ini maksa minta diperiksa. ''Nggak boleh sering-sering bu, nanti infeksi," kata bidan muda itu.

''Lah gimana sih, giliran saya yang minta kok nggak dikasih. Saya nggak minta malah diperiksa mulu," kata saya dengan nada sebel. Bidan-bidan yang ngontrol saya nyaranin saya untuk tiduran miring ke kiri biar bukaannya cepet. Lah mana saya kuat nahan ngeden begini sambil tiduran. Setiap kali hasrat mengedan dateng, saya sekuat tenaga nahan buat gak ngeden. Hasilnya, air ketuban saya semakin banyak mengucur. Ih ngeri juga liatnya, soalnya udah bercampur darah gitu. Baju yang saya pakai udah basah semua, saya minta bajunya diganti.

Sepanjang menahan ngeden saya cuma ngegrutu nggak jelas sambil mondar-mandir di ruangan, duduk bangun dibangku kecil. Seno cuma bisa ngeliatin saya sambil berdoa. Dia pun nawarin saya makan, karena dari tadi pagi saya nggak nafsu makan apa-apa. Saya cuma minum, makan buah, dan makan bubur kacang hijau beberapa sendok ke mulut saya.

"Ih nyebelin banget sih, daritadi nawarin makan mulu, lagi sakit begini mana nafsu makan," jawab saya saat suami top markotop saya itu nawarin makan. Kalau inget kejadian itu, sumpaaah saya nyesel banget ngomong begitu ke dia.

Tiba-tiba dokter Bob nongol didepan pintu sambil senyam senyum liatin saya lagi jenggut-jenggut rambut sendiri.

''Dokter, udah kali nih, saya dari tadi udah kepingin ngeden banget. Kata bidan udah bukaan 9. Dokter deh ngecek udah berapa sekarang," kata saya.

''Kalau ibu masih sanggup berdiri dan jalan-jalan kayak begini belom lengkap pembukaannya," jawab beliau.

''Aduh dok, saya malah nggak sanggup kalau nahan ngeden sambil sambil tiduran. Yang ada saya makin sakit," eh ada yang aneh loh,, selepas saya ngomong begini ke dokter Bob, mules sama hasrat ngeden saya lenyap.

Dokter Bob nyuruh saya berbaring karena beliau sendiri yang akan periksa udah bukaan berapa sekarang. Saya rebahan, ngangkang selebar-lebarnya. Dalam hati, saya udah ngeri duluan diperiksa dalam sama beliau, kebayang dong jari-jari orang gemuk sebesar apa. Diperiksa bidan yang tangannya mungil gitu aja ngilu, gimana ini.

Dan bener, kali ini saya beneran teriak manggil nama Allah pas dokter melakukan pemeriksaan dalam. "Oke, bawa dia ke ruangan saya sekarang,'' perintah dia ke bidan-bidannya. ''Ibu mau jalan sendiri atau pakai kursi roda" tanya dokter Bob.

''Saya jalan sendiri deh dok," saya dibantu Seno dan didampingi Ibu ke ruang bersalin. Di ruangan beliau, saya berbaring dan ngangkang di tempat bersalin.

Bidan-bidan dan dokter Bob nyiapin peralatan. Seno dan Ibu megangin saya dari belakang. Saya berdoa semoga mules dan hasrat ingin ngeden ada lagi. Soalnya begitu liat dokter Bob mules sama hasrat buat ngeden lenyap.

Peralatan pun ready. Dokter Bob nyuruh saya untuk ngeden seperti orang pup sambil memancing agar pup sama air seni saya keluar semua. ''Nah kalau Ibu sudah bisa pup dan ngencingin saya berarti bagus ngedennya. Ibu berhasil," kata dia. ''Maaf dok," kata saya.

''Nggak apa-apa, orang lahiran memang harus pup dan pipis dulu. Sekarang begitu mules dateng Ibu ngeden ya," kata dia. Saat keinginan mengejan datang, saya ngeden sekuat tenaga. Awal-awal saya salah ngeden dan lama-lama biasa. Untuk memunculkan kepala Kenzi ke permukaan entah berapa kali saya ngeden. Rasanya lemas, maklum nggak tidur semalaman dan nggak makan pula. Yang saya nggak tahu, untuk ngeluarin kepala bayi butuh tenaga super besar. Mungkin dokter Bob liat saya udah nggak sanggup ngeden lagi, beliau pun ngambil alat vakum. ''Jangan kuatir dengan vakum. Otak dan kepala bayi nggak akan rusak dengan divakum,''. Beliau pun nyuruh saya ngeden lagi, tapi tenaga saya kurang.

''Kalau Ibu dua kali lagi nggak bisa ngeden saya gunting nih," kata dia, mungkin ngancem, mungkin kasih motivasi.

Saya berdoa dalam hati agar dikasih kekuatan untuk ngeden lagi. Saya ngeden sekali, dan saya ngeliat dokter Bob udah megang gunting. dan settttt robeklah miss v eike. Dalam hati, baru juga sekali ngeden, katanya dua kali lagi, kok baru sekali udah digunting sih. Yah kena jahitan deh.

Setelah diepis (digunting), saya disuruh ngeden sekuat tenaga sama dokter Bob dan keluarlah Kenzie pada jam 1.19 siang. Kenzie langsung ditaro diatas perut saya sambil digunting tali pusatnya. Ternyata ngeluarin kepala susah yak, beda saat badan Kenzie ngelewatin jalan lahir. Berasa ngeluarin jeli yang gede banget. Hihihihi.. Ngeliat kepala Kenzie yang agak lonjong saya jadi makin nelangsa. Kenzie langsung dibawa bidan ke ruang sebelah diikuti Seno, sekalian mengazankan.

Kenzie nangis kuenceng banget. Dokter Bob ngeluarin plasenta dan menguras rahim saya. Jangan ditanya rasanya kayak apa. And then beliau ngobras deh. Setelah itu beres. Saya pun didera rasa ngantuk berat tapi nggak boleh tidur. Sambil didorong keluar ruangan, saya pandangi dokter Bob yang duduk di kursi kerjanya. "Makasih banyak dok," si dokter baik hati itu cuma senyum ajah.

Karena dilarang tidur, saya minta diambilin handphone. Saya mau facebookan biar nggak ngantuk heehehheh..

Setelah melahirkan, perasaan saya plong banget. Saya bersyukur datang ke tempat ini, keyakinan saya pada dokter Bob bisa menolong persalinan saya dengan normal terbukti. Saya bersyukur ditangani oleh orang yang tepat. Didampingi bidan-bidan yang super ramah, baik hati dan tidak membeda-bedakan pasien, entah itu pasien kaya atau miskin. Sikap sama yang dimiliki bos mereka.

Klinik dokter Bob memang jauh dari kesan mewah. Tapi apa yang dokter Bob dan seluruh pegawainya berikan kepada pasiennya adalah istimewa dan mewah. Kami, semua pasien, tanpa dipandang dari kelas apa, punya uang berapa dan datang naik apa sama-sama dilayani dengan rata. Keramahan, kehangatan dan sikap empati yang begitu besar benar-benar membuat saya nyaman.

Dari cerita yang saya denger dari bidan-bidan di klinik ini, dokter Bob sudah banyak menangani orang-orang yang divonis tidak bisa melahirkan normal bisa normal. ''Vagina adalah jalan dari Tuhan,''. Begitu kata dokter Bob setiap ngebahas masalah persalinan. Pantesan beliau santai banget orangnya. Di ruang bersalin sempet-sempetnya dia becanda sama pasien.

Mungkin, kalian nggak akan percaya dengan tarif yang dikenakan beliau ke saya. Sangat jauh diluar bayangan saya dan Seno. Untuk kenyamanan, kehangatan, pelayanan yang super ramah layaknya di kelas VIP, makan bergizi 3 kali sehari, jam besuk yang bebas dan jumlah penunggu pasien yang juga tidak dibatasi itu beliau memberikan harga hanya Rp1,5 juta.

Subhanallah.. Mungkin ini rejekinya Kenzie kali ya. Saya dan Seno hanya bisa mendoakan agar klinik ini terus dibanjiri pasien dan rumah sakit dengan tarif termurah untuk mereka yang membutuhkan yang lagi direncanakan dokter Bob bisa terbangun. Tetap rendah hati dan idealis ya dok :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar